Wafatnya Rasulullah Saw

Al Allamah Al Arifbillah Assayid Ali bin Abdurahman Aljuri menjelaskan tentang hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah sebelum Rasulullah saw wafat, kisahnya, “Sebelum itu kami mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pintu. Dan itu adalah Jibril. Jibril meminta izin Rasulullah untuk masuk. Beliau mengizinkannya.

muhammad 750x375

Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril, Ar-Rafiqul A’la…, Ar-Rafiqul A’la… Kami tahu bahwa sangkaan kami adalah tepat.’

Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Apa yang telah terjadi, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘ Itulah Jibril yang datang dan berkata: Malaikat maut telah berada di depan pintu dan meminta izin. Dan tidaklah malaikat maut meminta izin kepada seorang pun baik sebelum dan sesudahmu.

Dan ia (jibril) mengatakan: Allah menyampaikan salam kepadamu dan Dia telah merindukanmu,” Maka, wahai orang-orang yang berakal,apakah perpindahan kepada Tuhan yang merindukannya merupakan suatu kematian? Bukan. Kehidupan yang sebenarnya adalah perpindahan kepada Allah, Yang Mahahidup.

Kemudian malaikat maut mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Jikalau engkau berkenan, aku akan mencabut ruhmu untuk menemui Ar-Rafiqul A’la. Namun jika engkau tak berkenan, aku akan biarkan mengikuti berlalunya masa sampai tempo waktu yang engkau inginkan.”

Rasulullah memilih Allah Ta’ala. Ya, beliau memilih Sahabat Yang Teragung. Kemudian malaikat maut pun masuk dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. Ia berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah kau mengizinkanku?” Rasulullah SAW menjawab, “Terserah apa yang akan kau lakukan, Wahai malaikat maut. Dan berlaku lembutlah sewaktu mencabut ruhku.” “Hhhhhhhhhh……….” (Desis suara Rasulullah SAW menahan rasa sakit).

Rasulullah SAW kembali mengatakan kepada malaikat maut, “Berlaku lembutlah kepadaku, wahai malaikat maut.” Perhatikanlah (meski dicabut dengan selembut-lembutnya pencabutan ruh yang pernah dilakukan malaikat maut), Rasulullah SAW pun merasakan sakitnya sakaratul maut. Maka bagaimana (yang akan dirasakan) oleh orang yang lalai dengan kematian dalam kehidupan mereka? Mereka tidak merenungi saat-saat ketika nyawa dicabut pada saat sakaratul maut. “Beratkan bagiku,Ringankan bagi umatku”

Maka menanjak naiklah ruh mulia Baginda Rasulullah SAW, yang ditandai dengan sentakan kedua kaki beliau. Peluh pun bercucuran dari dahi Baginda.Peluh yang bagaikan butiran permata berbau kesturi. Rasulullah SAW menyapu peluhnya itu dengan tangannya dan kemudian meletakkan tangannya pada sebuah wadah di tepinya untuk menyejukan tubuhnya.

Kembali suara berdesis dari lisan suci beliau.”Hhhhhhhh……” Lantaran rasa sakit yang ia alami pada saat sakaratul maut. Beliau pun mengatakan, “Sesungguhnya maut itu amatlah berat, YA Allah,ringankan beratnya maut terhadapku” Maka para malaikat dari langit pun turun kepada beliau. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah menyampaikan salam atasmu dan Dia menyatakan bahwa sesungguhnya perihnya sakaratul maut 20 kali lipat (dalam riwayat lain 70 kali lipat) dari rasa sakit akibat padang yang menusuk tubuh.”

Rasulullah SAW pun menangis dengan tangisan yang tiada tangisan lain yang lebih menyedihkan bagi kalian semua. Beliau berdoa, “Ya Allah, beratkanlah (sakaratul maut) ini atasku, tapi ringankanlah atas umatku.”

Wahai,bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terkesan dengan Rasulullah SAW? Bagaimana kita dapat melupakan perintah untuk mencintai beliau? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagimana hati kita tidak tersentuh kala pribadi beliau diperdengarkan?

Maka,apakah yang kalian lakukan terhadap wasiat Nabi kalian di saat-saat akhir dari kehidupannya di dunia ini? Shalat adalah hubungan kalian dengan Tuhan, agar terjalin hubungan yang hakiki dengan-Nya.

Wahai orang yang mendahulukan perkerjaan dunianya dan hawa nafsunya sebelum shalat,yang mendahulukan keterlenaannya disbanding shalatnya,ingatlah, wasiat yang terakhir dituturkan oleh kekasih kalian di akhir usianya adalah,’Ash-shalah…. Ash-shalah… ash-shalah….’, di samping ‘Berwasiatlah dengan kebaikan terhadap para wanita’, dan juga,’Aku berwasiat kepadamu dengan kebaikan terhadap keluargaku.’

Sesaat kemudian,lidah Rasulullah SAW tampak kaku. Tapi, ruh beliau belum tercabut. Beliau masih berkata-kata.” Dan majelis ini, kata Habib Ali, adalah salah satu kenyataan yang menggambarkan keadaan ruh Rasulullah SAW. Kalaulah tidak karena kehidupan Rasulullah SAW yang wujud dalam diri kita,niscaya kita tidak tersentak saat disebut perihal kisah wafatnya Rasulullah SAW. Bergetarnya hati kalian saat disebutkan perihal kejadian-kejadian pada saat wafatnya Rasulullah SAW adalah sebagiam dari petunjuk yang nyata bahwa kematian beliau adalah sebuah kehidupan.Adakah kematian yang dapat menggerakkan banyak hati?

Sakaratul maut yang dialami Rasulullah semakin mendalam. Cahaya memancar dari wajah beliau, dan cahaya itu meliputi keluarganya. Waktu terus berjalan.

Ruh mulia Rasulullah SAW telah sampai pada kerongkongannya. Beliau membuka kedua kelopak bola matanya. Kemudian beliau menunjukkan isyarat dengan jari telunjuknya sebagai kesaksian atas keesaan Sang Pencipta, yaitu isyarat ketauhidannya. Tak lama kemudian, beliau pun mengembuskan napas terakhir.
Sejahterakanlah jasad beliau yang agung setelah melalui hari-hari yang melelahkan, lantaran segala hal ia baktikan demi keselamtan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau setelah perutnya kerap kali diikat dan diganjal batu karena kelaparan, demi pengorbanannya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang pernah dilempari batu hingga melukai beliau,demi dakwahnya kepada kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang gerahamnya pernah dipatahkan, lantaran kesungguhan beliau dalam membela agama yang akan menyelamatkan kita.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang dahinya pernah dilukai sampai mengalir darah dari dahinya yang mulia itu, lalu beliau menahannya dengan tangan beliau agar darah suci beliau tak sampai jatuh ke tanah, sebagai rahmat bagi mereka, kaum yang memerangi beliau, dan bagi kita, dari kemurkaan Allah SWT.
Sejahterakanlah jasad beliau, yang mata panah pernah menembus daging pipinya,demi kita.
Sejahterakanlah jasad beliau,yang kakinya sampai bengkak disebabkan pengabdian beliau kepada Allah SWT dan demi dakwah kepada kita.
Sejahterakanlah jasad yang telah memikul kesukaran,keletihan, kesakitan,dan,kelaparan karena kita.

Ketika para penghuni rumah itu menyaksikan kepergian Rasulullah SAW, yaitu setelah ruh beliau meninggalkan jasad beliau, tangis pun meledak menyelubungi seisi rumah.
“wahai Nabi Allah….! Wahai Rasulullah…! Wahai kekasih Allah….!”
Sesaat kesedihan menyelubungi rumah itu, seketika, suasana penuh haru menyemburat di wajah para sahabat yang ada di dalam masjid. Tak lama kemudian,berita wafatnya Rasulullah pun kemudian menyebar begitu cepat ke segenap penjuru kota Madinah. Musibah Terberat

Kembali lagi sejenak pada apa yang dialami Sayyidina Ali bin Abu Thalib KW pada detik-detik yang sangat bersejarah itu. Saat itu, ia tengah duduk di sisi tubuh mulia Rasulullh SAW.
Ketika ia melihat guncangan ruh beliau, ia melihat Sayyidatuna Aisyah RA menangis. Maka kemudian ia mengangkat tubuh Rasulullah SAW dan meletakkannya di kamar beliau. Setelah meletakkan tubuh nan suci itu, di saat ruh Rasulullah SAW hampir terlepas dari jasadnya, Sayyidina Ali pun terjatuh dan kemudian tak kuasa untuk berdiri.
Maka kemudian,tatkala suara tangisan memenuhi ruangan rumah itu,terdengarlah suara yang tidak terlihat siapa yang menyatakannya. Mereka mendenga suara yang mengatakan,”Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Ya Ahlal Bait, a’zhamallahu ajrakum. Ishbiru wahtasibu mushibatakum. Fa inna Rasulallah farathukum fil jannah.”-Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Wahai penghuni rumah,semoga Allah membesarkan ganjaran pahala kalian. Bersabarlah dan bermuhasabahlah dengan musibah yang kalian alami ini. Maka sesungguhnya Rasulullah mendahuluimu sekalian di surga.”

Ketika suara itu terdengar, merekapun terdiam dan menjadi tenang. Setelah suara itu berhenti,mereka pun menangis lagi. Demi Allah, Dzat Yang Disembah,kalian tidak pernah diberi musibah seperti musibah yang mereka rasakan. Tiada satu rumah pun yang pernah merasakan kehilangan seperti yang mereka rasakan.
Kabar itu tersiar cepat di kota Madinah. Para sahabat merasa kebingungan. Ketika dikatakan kepada mereka “Wahai para sahabat, tidakkah kalian tahu, Rasulullah SAW adalah manusia, dan sebagai manusia beliau pun pasti mengalami kematian?”, mereka mengatakan,”Ya, tapi kehidupan beliau kekal dalam diri kami dan telah menjadi cambuk dahsyat pada jiwa kami.” Hati para sahabat terus bergetar.Ketika Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, Fathimah mensifatkan Sang Ayah dengan kata-kata:

“Wahai Ayah, yang telah memenuhi panggilan Tuhannya..

Wahai Ayah, Syurga Firdaus tempat kembalimu..

Wahai Ayah, kepada Jibril kami menitipkanmu.. Wahai Ayah..”

Fathimah tidak berkata kecuali hal yang baik walaupun dalam keadaan sedih. Kita lihat, bagaimana keteguhannya. Subhanallah..!! Maha Suci Allah yang telah meneguhkannya, yang mana Fathimah adalah paling cintanya orang kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Fathimah adalah seseorang yang paling banyak mendapat cinta dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berkata Sayyidatuna ‘Aisyah, “Kita semua berada di sisi Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Panggilkanlah Fathimah…! Panggilkanlah Fathimah…!’

Sungguh Fathimah adalah Bukan hanya penenang akan tetapi sayyidina fathimah penenang di atas penenang bagi Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Fathimah pun datang, Demi Allah, jalannya tidak sedikitpun berbeda dengan jalannya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh Fathimah adalah paling benarnya manusia dalam melafadzkan huruf dan paling miripnya orang kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segalanya, baik dari hal gerak geriknya, perkataannya, akhlaqnya, tata bicaranya, juga semua keadaannya menyerupai Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , juga wajahnya sangat mirip dengan sang ayah.

Maka kemudian Fathimah pun masuk, semua para Istri Nabi sedikit menjauh, sang putri pun mendekat, Nabi membisikkan sesuatu perkataan yang membuat Fathimah menangis. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Fathimah kembali mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Fathimah tersenyum dan tertawa.

Sayyidatuna Aisyah berkata, “Ajieb…!! Sungguh mengherankan aku tidak pernah melihat tawa yang sangat dekat dengan tangisan seperti hari ini.”

Bagaimana bisa seorang menangis dan tertawa dalam satu waktu begini, Sayyidatuna Aisyah pun heran.

Maka Sayyidatuna Aisyah memanggil Sayyidatuna Fathimah dan berkata, “Apa yang telah ayahmu katakan kepadamu,?”

Fathimah menjawab, “Demi Allah, tidak mungkin aku membuka rahasia Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Selang beberapa waktu setelah meninggal Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah kembali bertanya, “Demi hakku atasmu Wahai Fathimah, tidakkah kau mau mengabarkan padaku apa yang ayahmu katakan padamu…?”

Fathimah mengatakan, “Ketika ayahku membisikku pada pertama kali, berkata, ‘Wahai Fathimah, setiap tahun Jibril mendatangiku untuk mengulangi semua wahyu al-Qur’an yang telah di sampaikan padaku. Tapi tahun ini, ia datang memeriksa al-Qur’an sebanyak dua kali, sehingga aku menduga bahwa ajalku telah dekat dan aku akan meninggal sebab sakitku ini.’ Maka aku pun menangis.” Kata Fathimah,

“Kemudian ayahku membisikku untuk kedua kalinya, ‘Wahai Fathimah, tidakkah kau gembira bahwa kau menjadi pemimpin wanita seluruh alam dan engkau adalah anggota keluargaku yang paling pertama akan menyusulku.’ ”

Mendengar hal ini, gembiralah Sayyidatuna Fathimah, karena ia tak mampu lagi menahan hidup setelah kepergian sang ayah.

Sang Zahro’ telah di tinggal sang bunda juga semua saudari-saudari nya. Dan, hari ini ia kehilangan kekasih tercinta, al-Habib Shallallahu ‘Alayh Wa Sallam. Bagaimana ia bisa hidup setelah ia di tinggal pergi sang ayah tercinta…?! Hatinya kini tercabik-cabik dan terbakar oleh api kerinduan.

Ketika meninggal Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fathimah menangis dan mensifatkannya dengan berkata kepada Sayyidina Anas RA ketika kembali dari penguburan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan di penuhi debu. Melihat hal tersebut, Fathimah berkata, “Wahai Anas, apa yang telah kau lakukan..?”
Anas menjawab, “Kami baru saja menguburkan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam..!!”

Sayyidatuna Fathimah berkata lagi,”Apakah kalian senang wahai Anas, telah menaburkan debu atas Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam..???!!”

Anas pun berkata, “Demi Allah…!! Wahai Putri Rosulillah, kami tidak sadar atas apa yang telah kami lakukan. Tidaklah kami meletakkan serta menguburkannya, kecuali kami baru tersadar dan menyesali atas apa yang telah kami lakukan…!” Sayyidatuna Fathimah berusaha menghimpun seluruh perasaannya yang tercabik-cabik. Ia berusaha berjuang dengan melangkah yang teramat berat untuk mendekati kuburan ayahandanya tercinta, Rosul Allah Shallallahu ‘Alayh Wa Sallam.

Setelah berada di sisinya, ia menggenggam sekepal tanah dari kuburan itu untuk di dekatkannya ke matanya yang sembab karena banyaknya menangis. Lalu menciuminya dan berkata dengan lirih:

“Kemuliaan apakah yang dapat menandingi orang yang mencium tanah Ahmad..?
Sepanjang kehidupannya, takkan pernah ia dapatkan lagi kemuliaan yang semisalnya..
Aku telah tertimpa musibah, yang mana jika tertimpa pada terangnya hari akan merubahnya menjadi gelapnya malam..”

Kemudian Fathimah melantunkan,

“Langitpun di penuhi debu..

Sang mataharipun tergelincir..

Seluruh jagat di penuhi kegelapan..

Dan bumi menjadi berduka setelah perginya Sang Nabi..

Sebagai bukti penyesalan atas banyaknya goncangan musibah..

Maka menangislah wahai penduduk timur dan barat..

Dan menangislah engkau wahai kaum Muhdlor dan Yamani..

Wahai penutup para Rosul yang cahayamu penuh keberkahan..

Semoga sholawat serta salam Sang Penurun al-Qur’an selalu menyertaimu.. “