Wabah Tha’un dan Terbunuhnya Khalifah Umar bin Khathab

Pada tahun 12 H pasukan muslimin yang sedang berada di Syam mendapat musibah tha’un. Ketika mendengar berita tersebut umar langsung ingin berangkat ke Syam untuk melihat serta membantu muslimin yang berada di Syam. Beliau langsung mengumpulkan para sahabtnya serta meminta pendapatnya dari mereka. Akan tetapi, ketika semuanya dikumpulkan terjadilah perbedaan pendapat sampai sahabat Abdurahman bin Auf datang dengan memberitakan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda :

Mendengar apa yang disampaikan oleh sahabat Abdurahman bin Auf, umar pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke Syam.

Umar bin al Khattab Calligraphy Uncategorized 001

Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam kitabnya Zaadul Ma’ad berkata,”Tha’un adalah sejenis wabah penyakit. Menurut ahli medis, tha’un adalah pembengkakan kronis dan ganas, sangat panas dan nyeri hingga melewati batas pembengkakan sehingga kulit yang ada disekitarnya bisa berubah menjadi hitam, hijau atau berwarna buramdan cepat bernanah. Biasanya pembengkakan ini terjadi di tiga tempat : ketiak, belakang telinga, puncak hidung, dan sekitar daging lunak.

Abu Hasan Al Madaniy berkata : kejadian wabah besar tha’un yang terkenal dalam peradaban Islam ada lima, beberapa diantaranya pernah terjadi di zaman Nabi saw dan Umar bin Khathab : Tha’un Syirawasih, yang terjadi di Madinah pada masa Rasulullah saw pada tahun ke 6 H. kemudian tha’un ‘amawas di zaman Khalifah Umar bin Khathab yang ada di Syam serta menyebabkan sekitar 25.000 orang meninggal dunia.

Di akhir tahun 23 H Khalifah Umar menunaikan ibadah haji. Sa’id bin Musayyab berkata, “setelah berangkat dari Mina, umar singgah di Abthakh kemudian duduk bersila dan berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya, “Ya Allah, usiaku telah lanjut, kekuatanku telah mulai lemah, rakyatku telah tersebar luas. Karenanya, panggillah aku kepada-Mu tanpa ada kewajiban yang aku sia-siakan atau amalan yang melewati batas.”

Dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah, 7/137 dan Tarikhul hal 124. Di penghujung bulan Dzulhijjah tahun ke 23 H, umar terbunuh syahid. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aslam bahwa umar pernah berdo’a : “Ya Allah, karunialah aku mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu.” Bahkan sebelum beliau meninggal, beliau mengutus salah satu anaknya untuk bicara kepada Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah ra yang intinya meminta ijin supaya jika beliau meninggal nanti supaya bisa dimakamkan bersama kekasihnya yang sangat beliau cintai Sayyidina Muhammad saw dan sahabatnya yang ia muliakan dan cintai yakni Abu Bakar Shidiq ra. Keinginan umar tersebut dijinkan oleh Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah ra. Mendengar jawaban tersebut umar sangat gembira karena memang itulah cita-cita beliau yaitu selalu bersama kekasih dan sahabatnya sampai mati.

Orang yang membunuh umar adalah seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa di panggil Abu Lu’lu’ah. Disebutkan bahwa ia membunuh umar karena ia pernah datang mengadu kepada umar tentang beratnya Kharaj (pajak) yang harus dia keluarkan. Tetapi, umar menjawab, “Kharajmu tidak terlalu banyak.” Dia kemudian pergi sambil menggerutu, “Keadilannya menjangkau semua orang kecuali aku.”Ia lalu berjanji akan membunuhnya. Disiapkanlah sebuah pisau belati yang telah diasah dan diolesi racun. Memang Abdul Mughirah ini seorang yang ahli dalam berbagi kerajinan. Pisau yang sudah ia siapkan untuk membunuh umar, ia simpan terlebih dahulu di salah satu tempat di sudut masjid. Tatkala umar berangkat shalat shubuh sekaligus menjadi imam pada shalat tersebut, ia langsung menyerang umar dengan menusukkan pisau tersebut sebanyak 3 tikaman dan umar pun yang sedang menjadi imam shalat shubuh langsung rubuh.

Setelah itu, setiap orang berusaha untuk menangkap pembunuh umar dan orang tersebut terus menyerang siapa saja orang yang berusaha untuk menangkapnya. Sampai ada salah seorang yang berhasil menjaringkan kain padanya. Setelah melihat bahwa dirinya terikat dan tidak dapat berkutik lagi, maka ia pun bunuh diri dengan pisau yang dibawanya.

Syekh Sa’id Ramadhan Al buthi dalam kitabnya Fiqhus Sirah menjelaskan barangkali dibalik peristiwa ini terdapat konspirasi yang dirancang oleh banyak pihak diantaranya orang-orang Yahudi, Majusi dan Zindiq. Sangat tidak mungkin perbuatan kriminal ini dilakukan semata-mata karena kekecewaan pribadi karena banyanya kharaj yang harus dikeluarkannya. Wallohu’alam