Tarim "Kota Sejuta Wali Di Yaman"

Di negara kita banyak yang disebut sebagai kota santri karena banyaknya pondok pesantren serta majelis ta’lim yang berdiri Tasikamalaya dan lain-lain. Serta ada juga yang disebut sebagai kota wali karena memang disitu dimakamkan para wali songo seperti di Cirebon ada makam Sunan Gunung Jati, di Surabaya ada makam Sunan Ampel dan lain-lain. Jika kita mengunjungi Yaman, maka tidaklah sempurna jika kita tidak mengunjungi sebuah kota yang nilai religiusnya sangat kental. Nama kota ini adalah Tarim yang terletak di provinsi Hadhramaut. Kota Tarim, yang terletak sekitar 35 km di Timur Saiun.

tarim

Di satu sisi kota ini terlindungi oleh bukit-bukit batu terjal, di sisi lain di kelilingi oleh perkebunan kurma. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi’i. Kota ini disebut sebagai kota sejuta wali karena banyaknya wali yang dimakamkan di situ. Bahkan kota Tarim sering diibaratkan sebagai sebuah madrasah yang besar (kota pendidikan dan ilmu) hingga penduduknya setiap hari dapat mempelajari berbagai bidang ilmu sesuai tingkatannya. Di kota tersebut dapat di temui berbagai lembaga pendidikan yang telah berumur ratusan tahun bahkan lebih dari seribu tahun. Selin itu, kota Tarim juga memiliki banyak masjid yaitu tak kjurang dari 365 masjid yang berdiri di kota Tarim. Jika kita menginjak bulan ramadhan kemudian pelaksanaannya di negara kita set setelah Shalat Isya langsung di mulai, maka di kota Tarim pelaksanaannya ada yang setelah shalat Isya bahkan ada yang tengah malam dan dua pertiga malam. Begitu semaraknya shalat berjamaah di kota Tarim, sebuah kota yang berkah dan menjadi gudangnya para ulama. Bahkan menurut berbagai sumber diceritakan bahwa leluhur para wali songo sebenarnya berasal dari Tarim, Hadhramaut Yaman. Suasana yang sangat religius tersebut bukanlah tanpa sebab, karena memang penduduk Yaman telah telah memeluk agama Islam sejak zaman Nabi saw. Bahkan di Hadhramaut Yamat terdapat makam Nabi Hud As yang mana lokasi makam berada di daerah bernama Syi’ib Hud yang berjarak sekitar kurang lebih 80 km dari kota Tarim. Masyarakat Hadhramaut mempunyai tradisi ziarah ke makam Nabi Hud alaihis salam secara bersama-sama setiap tahunnya,yaitu di bulan sya’ban tepatnya pada tanggal tujuh sampai tanggal sepuluh sya’ban. Musim ziarah ini biasanya dihadiri oleh ribuan peziarah yang tidak hanya datang dari daerah Hadhramaut saja tetapi juga para peziarah dari luar hadhramaut dan dari luar Yaman.Sebagian besar dari peziarah biasanya akan bermalam selama empat hari empat malam di rumah-rumah yang mereka bangun di lokasi sekitar makam,yang mana rumah tersebut hanya mereka tempati pada waktu ziarah saja. Ziarah biasanya dilakukan oleh perorangan atau dengan bersama-sama yang biasanya dipimpin oleh seorang yang di tuakan dari keluarga tertentu yang disebut dengan istilah munsib. Ziarah ‘ammah atau ziarah bersama-sama ini memiliki tata cara khusus yang di warisi dari apa yang dilakukan oleh para leluhur mereka,dan hal ini sudah menjadi tradisi yangturun menurun Tatkala di tahun 10 H di utuslah seorang sahabat Nabi saw yang bernama Ziyad bin Labiid al-Khazraji al-Badri ke Hadhramaut untuk mengurus zakat. Bahkan ketika Nabi saw wafat dan Sahabat Abu Bakar Shidiq di angkat sebagai khalifah dan ketika itu sahabat Ziyad berada di kota Tarim membacakan surat pengangkatan khalifah Abu Bakar serta mengajak seluruh penduduk Tarim untuk bersumpah atau berbaiat kepada Khalifah Abu Bakar, maka pada waktu itu tak ada seorang pun yang menentangnya. Seluruh penduduk Tarim berbaiat setia kepada Khalifah Abu Bakar. Sampai kemudian kabar tentang baiatnya seluruh penduduk Tarim ini sampai ke telinga Khalifah Abu Bakar, maka sang Khalifah pun langsung mendo’akan penduduk Tarim dengan tiga kebaikan, yaitu : 1. Di do’akan semoga di Tarim tumbuh serta muncul banyak orang sholeh seperti tumbuhnya rerumputan atau sayur mayur 2. Di do’akan semoga airnya selalu jernih, segar dan diberkati 3. Di do’akan semoga Tarim selalu makmur hingga akhir zaman. Rupanya do’a dari Khalifah Abu Bakar di kabulkan oleh Allah swt. Alhamdulillah Tarim sampai sekarang tumbuh sebagai pusat daripada ilmu agama Islam, yang mana banyak para da’i yang belajar di Tarim menyebar ke berbagai negeri untuk mendakwahkan agama Islam. Banyaknya para ulama serta ribath atau pesantren di Tarim menandakan kota ini penuh dengan keberkahan berkat do’a dari sahabat Abu Bakar. Diceritakan bahwa pada kota Tarim terdapat tiga keberkahan : pertama, keberkahan pada setiap masjidnya, kedua, keberkahan pada tanahnya, ketiga, keberkahan pada pegunungannya. Keberkahan masjid yang dimaksud adalah setiap masjid di kota Tarim pada waktu sesudah kepindahan Ba’alawi menjadi universitas-universitas yang melahirkan ulama-ulama terkenal pada masanya. Salah satu tempat penyebaran ilmu yang sudah berumur ratusan tahun adalah rumah Al Imam Faqih Al Muqaddam yang meninggal pada tahun 623 H. selain itu, ada lembaga ilmu lainnya seperti pesantren yang menyediakan asrama bagi para santrinya yang datang dari berbagai kota maupun negara salah satunya adalah Ribath Tarim. Sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Al Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas bahwa Ribat Tarim merupakan realisasi dari keinginan dan niat suci salafus shaleh sejak zaman Imam Faqih Al Muqaddam supaya di Tarim terdapat asrama bagi para pendatang yang ingin menuntut ilmu di kota Tarim. *disarikan dari berbagai sumber