Tahun Berduka Nabi Saw ('Amul Huzni)

 ‘Amul Huzni atau tahun berduka merupakan tahun yang berat bagi Nabi saw. Betapa tidak, kedua permata Beliau saw wafat di tahun in yakni tahun ke 10 kenabian. Dua permata yang wafat tersebut adalah Abu Thalib paman Nabi saw serta Sayyidah Khadijah istri Nabi saw. Syekh Sa’id Ramadhan Al Buthy berkata dalam kitabnya yaitu Fiqhus Sirah bahwa selisih waktu wafat keduanya adalah hanya satu bulan lima hari.

 tumblr nz8j8aA9hs1tdo6jao1 1280

Seperti yang kita ketahui semua, bahwa sepeninggal ibunda Aminah juga sepeninggal Abdul Muthalib, Nabi saw dibesarkan oleh Abu Thalib. Abu Thalib sangat sayang pada Nabi saw, menghalangi berbagai tindakan jahat orang-orang kafir quraisy terhadap Nabi saw dan lain-lain. Jasa Abu Thalib sangatlah besar.

Sedangkan Sayyidah Khadijah merupakan istri yang sangat dicintai Nabi saw. Seluruh hartanya digunakan untuk membantu dakwah Nabi saw. Sayyidah Khadijah juga merupakan orang yang pertama masuk Islam. Bahkan pada saat-saat Rasulullah saw menghadapi masalah-masalah berat, Sayyidah Khadijah lah yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya.

Wafatnya Abu Thalib

 Ketika datang kabar yang sangat menyedihkan yaitu kabar meninggalnya Abi Thalib. Sementara Abi Thalib adalah orang yang selalu mencegah dan menahan gangguan-gangguan orang kafir Quraisy dengan memanfaatkan kedudukankanya, kewibawaannya, pengaruhnya, kekayaannya, juga umurnya yang di tuakan, berusaha dengan segala macam cara untuk melindungi Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika Abi Thalib meninggal, orang kafir Quraisy tertawa dengan gembira, semakin parah gangguan dan siksaan yang diterima oleh Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anak-anak kecil serta budak-budak orang Quraisy mencaci, menghina, dan mempermainkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melempari batu, mereka juga menuangkan debu di kepala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sesampainya di rumah masih banyak debu yang berada di kepala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sayyidatuna Fatimah mendekati ayahnya dan membersihkan debu yang mengotori kepala sang ayah, tanpa terasa air mata pun membasahi wajahnya. Fatimah ingin menahan tangisan hatinya, akan tetapi ia tak mampu menahan air matanya. Fatimah terus membersikan kepala ayahnya dan Fatimah terus menangis, menangis, dan menangis.

 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh dan berkata: “Wahai putriku, janganlah engkau menangis karena Allah Swt. akan menampakkan agama ini. Tidak ada tempat yang terbuat dari batu atau tanah atau kayu (keseluruh tempat) kecuali agama ayahmu akan masuk, baik menjadikan mereka mulia atau menjadikan mereka hina.” Beginilah keadaan mereka terus dalam keadaan jihad dengan kesabaran.

Wafatnya Sayyidatuna Khadijah Rodliyallahu ‘anhaa

 Hari pun terus berlalu kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah, penyakitnya semakin parah. Sayyidatuna Fatimah dan Ummu Kulstum setia mendampingi ibunya, dan duduk disampingnya. Rintihan rasa sakit terdengar dari bibir Sayyidatuna Khadijah, dan air matanya pun tak sanggup menutupi rasa sakitnya.

 Air mata Sayyidatuna Fatimah pun membasahi pipinya, akan tetapi beliau dengan cepat mengusap air matanya karena tak ingin (takut) kesedihan diketahui ibunya. Sayyidatuna Fatimah dan Ummu Kultsum merasakan sebuah rasa sedih di dalam hati mereka atas apa yang di lihatnya bahwa ini adalah ibunya yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Seseorang yang sangat dicintai oleh ayahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa sedih atas apa-apa yang menimpa Sayyidautna Khadijah, dan Sayyidatuna Fatimah mengetahui hal itu. Jika telah pergi ibunya, siapakah yang akan menggantikan ibunya?

Tidakkah cukup kesedian ini..? Tidakkah cukup kepedihan ini setelah pergi Abi Thalib sedangkan dia adalah orang paling lembut dan sekarang ibunya harus pergi juga. Sayyidatuna Khadijah dan kedua anaknya saling berbincang-bincang dan memberi wasiat: “Wahai Fatimah.. Wahai Ummu Kultsum.. Aku merasa ajalku telah tiba.”

Sayyidatuna Khadijah terus memberikan wasiat-wasiatnya dan di antaranya yang terpenting dan sangat ditekankan adalah mewasiatkan untuk menjaga dan memperhatikan ayahnya.

Kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah dan ajalnya pun sudah sangat dekat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menghampiri Sayyidatuna Khadijah, seorang istri yang paling dicintainya.

Dia adalah wanita yang telah berkorban, dia adalah wanita yang lemah lembut yang menyelimutinya dengan penuh kasih sayang, dan membenarkannya ketika turun wahyu. Dia adalah wanita yang selalu penuh perhatian, wanita yang memberikan bekal makanan ketika Nabi di Gua Hira. Dia adalah wanita yang menghibur Nabi ketika semua orang lari, wanita yang mempercayai ketika semua orang mendustakan. Wanita yang menolong ketika semua orang menghina dan memusuhi.

Dialah Khadijah yang Allah pilih untuk menemani kekasih-Nya. Ketika Rasulullah datang, mata Sayyidatuna Khadijah berkaca-kaca yang diiringi tetesan air mata yang memancarkan suatu pandangan yang penuh kasih sayang, suatu pandangan sebagai pengantar perpisahan mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di dekat Sayyidatuna Khadijah. Dengan perlahan Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kepala Sayyidatuna Khadijah di pangkuannya, sedangkan di samping kamar Sayyidatuna Fatimah menangis melihat semua ini dan Ummu Kultsum berusaha meredakan tangisan adiknya (Fatimah) yang masih kecil.

Sayyidatuna Fatimah sedih karena perpisahan dengan Sayyidatuna Khadijah bukanlah hal yang remeh. Jika seorang putri yang masih kecil ketika ditinggal ibunya bersedih sekali atau dua kali. Akan tetapi perpisahan dengan Sayyidatuna Khadijah bukanlah perpisahan dengan seorang ibu yang biasa, karena ibundanya adalah wanita muslimah yang pertama, wanita yang menjadi pelindung Islam, wanita yang sangat dicintai Rasulullah.

Ketika Sayyidatuna Khadijah sedang dalam pangkuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang sebuah kabar gembira. Rasulullah Saw. Bersabda, “Wahai Khadijah, sesungguhnya jibril datang menyampaikan salam dari Allah atasmu, Sayyidatuna Khadijah menjawab : “Allahussalam Waminhussalam wa’alaikassalam Wailahi ya’udussalam wa’ala Jibril salam.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Khadijah sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberimu kabar gembira dengan sebuah rumah yang sangat megah disurga, yang tidak terdapat di dalamnya kesusahan ataupun kesulitan sedikitpun.”

Mendengar hal tersebut bercampurlah rasa gembira dan sedih meliputi dua gadis yang cantik ini (Fatimah dan Ummu Kultsum) sebuah rasa yang aneh dan menakjubkan. Di saat mereka berdua dalam keadaan yang menggembiran dan menyenangkan atas kedudukan yang didapatkan oleh ibunya, kedudukan yang tidak dicapai seorangpun (mendapat salam dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), bersamaan dengan adanya rasa gembira ini, goresan rasa pedih dan rasa sakit yang sangat mendalam bercampur atas perpisahan yang sangat berat bagi mereka.

Akan tetapi, ini semua adalah takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Sayyidatuna Khadijahpun meninggal di pangkuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dinamakan tahun ini dengan tahun kesedihan (‘Aamul Huzn). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kehilangan pamanya yang selalu menjadi penolongnya dan kehilangan istri tercinta yang selalu menjadi penghibur hati dan meringankan beban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.