Syahidnya Khalifah Utsman bin Affan

Ketika terdengar bahwa ada sebagian orang yang ingin membunuh Khalifah, maka langsung Ali menyuruh kedua anaknya yakni Hasan dan Husein untuk membawa pedang dan menjaga rumah Khalifah sebenarnya Ali tidak ingin Khalifah sampai terbunuh. Karena ia sangat hormat dan sayang terhadap sahabtnya tersebut. Yang diinginkan Ali adalah Marwan yang telah membuat fitnah dimana-mana. Hal ini pun dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang lain dengan menjaga rumah Khalifah dan tidak membiarkan siapapun masuk ke rumahnya. Ketika para pengacau menyerbu pintu masuk rumah Khalifah dengan tujuan untuk membunuh Khalifah, namun hal ini bisa di hadang oleh cucu nabi yakni Hasan dan Husein serta sahabat yang lainnya.

Usman bin Affan

Akan tetapi, para pengacau ini berhasil menyelinap dan naik ke atap rumah Khalifah secara sembunyi-sembunyi. Mereka berhasil masuk ke rumah Khalifah dan menebaskan pedang sehingga Khalifah Utsman terbunuh. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Khalifah Utsman ketika itu sedang membaca Al qur’an dan Khalifah terbunuh ketika sedang membaca Al qur’an. Bahkan istrinya yang bernama Na’ilah harus relaterpotong jarinya karena berusaha menghadang tebasan pedang.sungguh biadab para pembunuh ini. Khalifa, menantu Nabi saw yang sedang membaca Al qur’an dibunuhnya. Ketika mendengar berita terbunuhnya Khalifah, Ali langsung marah besar. Kemudian berkata kepada kedua anaknya, “Bagaimana bisa Khalifah dibunuh, sedangkan kalian berdua berdiri menjaga pintu ? “Ali kemudian menampar Hasan dan memukul dada Husein serta mengecam Muhammad bin Thalhah dan Abdullah bin Zubair. Pembunuhan Utsman ini merupakan pintu dari mata rantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir.

Setelah kejadian tersebut Marwan beserta anaknya langsung melarikan diri. Ali kemudian datang kepada istri Utsman dan menanyakan tentang para pembunuh Utsman. Na’ilah menjawab, “Saya tidak tahu. Ada dua orang yang datang disertai Muhammad bin Abu Bakar.” Ali kemudian menemui Muhammad bin Abu Bakar tentang apa yang dikatakan oleh Na’ilah istri Utsman bin Affan. Muhammad bin Abu Bakar menjawab, “Na’ilah tidak berdusta. Demi Allah, tadinya aku masuk kepadanya dengan tujuan ingin membunuhnya. Akan tetapi, aku teringat pada ayahku sehingga aku membatalkannya. Aku bertobat pada Allah. Demi Allah, aku tidak membunuhnya, bahkan aku tidak menyentuhnya.” Na’ilah menyahut, “ Dia benar, tapi dialah yang memasukkan kedua orang tersebut.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Kinanah, mantan budak Shafiah dan lainnya. Mereka berkata, Utsman dibunuh oleh seorang lelaki dari Mesir berkulit biru kecokelatan.”

Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari Abu Tsaur al-Fahmi, dia berkata, “Aku pernah datang kepada Utsman ketika sedang dikepung, lalu beliau berkata, “Aku telah bersembunyi di sisi Rabb ku selama sepuluh hari. Sesungguhnya aku adalah orang ke 4 yang memeluk Islam. Aku juga pernah membekali pasukan yang tengah menghadapi kesulitan (Jaisyul ‘usrah). Kepadaku Rasulullah pernah menikahkan anak perempuan beliau kemudia ia meninggal dan aku dinikahkan lagi dengan anak perempuan lainnya. Tidaklah pernah lewat satu Jum’at semenjak aku masuk Islam kecuali pada hari itu aku memerdekakan budak manakala aku memiliki sesuatu untuk memerdekakannya. Aku tidak pernah berzinah di masa jahiliyyah, apalagi di masa Islam. Aku tidak pernah mencuri di masa Jahiliyyah, apalagi di masa Islam. Aku juga pernah menghimpun Al qur’an di masa Rasulullah.” Menurut riwayat yang shahih, Khalifah Utsman dibunuh pada pertengahan hari tasriq tahun ke-35 H.

Subhanallah... betapa mulianya Khalifah Utsman bin Affan. Lihat bagaimana pemaparan dirinya di atas. Maka, walaupun badai fitnah sangat besar di zaman Khalifah Utsman, akan tetapi Ali beserta para tokoh sahabat lainnya tetap percaya pada Utsman, tetap mecintai serta menghormatinya.

Lihatlah bagaimana Ali membela Utsman sampai akhir kehidupannya ; bagaimana ia memobilisasi kedua putaranya Hasan dan Husein untuk menjaga Utsman dari orang-orang yang mengepungnya.

Dengan demikian jelas sudah bahwa Ali merupakan pendukung Utsman yang terbaik semasa Khilafahnya disamping merupakan pembela terbaiknya dimasa cobaan yang berat. Ali bersikap tegas dan keras dalam memberikan nasihat pada Utsman tak lain karena Ali cinta dan ghirah pada Utsman.

Disinilah awal mula perpecahan umat Islam menjadi dua kubu yakni Sunni dan Syi’i yang dimulai pada periode ini. Perpecahan ini sepenuhnya merupakan buah tangan dari seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba.