Sunat Dalam Berwudhu

 

Dalam kitab Irsyadul Awam Ila Sabilis Salam dijelaskan, bahwa sunat-sunat wudhu merupakan setiap pekerjaan yang bagus yang berhubungan dengan wudhu tetapi keluar atau bukan bagian dari rukun atau fardhu wudhu. Sunat-sunat wudhu ini sangatlah banyak, diantaranya adalah sebagai berikut :

wudhu

1. Bersiwak atau sikat gigi terlebih dahulu

 

Bersiwak merupakan sunnah Nabi Saw. Banyak sekali hadits yang mengutaran tentang anjuran bersiwak atau keutamaan bersiwak, diantaranya :

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Bahwasanya Rasulullah Saw telah bersabda : Seandainya tidak memberatkan aku ke atas umatku nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak (hadits riwayat al-Bukhari)

 

Adapun cara yang disunnatkandalam bersiwak yaitu mulai menggosok siwak dari mulut bagian kanan. Kemudian siwak digosokkan secara merata pada gigi bagian kanan (atas-bawah, luar-dalam) sampai mulut bagian tengah. Setelah bagian kanan selesai, maka dilanjutkan pada bagian mulut sebelah kiri dengan menggosokkan siwak pada gigi (atas-bawah, luar-dalam) sampai mulut bagian tengah

2. Membaca Basmalah,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dilakukan ketika membasuh telapak tangan. Karena ikut sunnah Nabi saw. Apabila kita lupa membaca dalam membaca Basmalah pada waktu membasuh telapak tangan dan ingat di pertengahan wudhu, maka tetap disunnatkan membaca Basmalah,dengan lafadz seperti ini :

 

بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَأَخِرَهُ.

 

Artinya: Dengan menyebut Nama Allah di permulaan dan akhir wudhu.

 

Sedangkan jika kita ingatnya setelah selesai wudhu, maka sudah tidak disunnatkan lagi membaca Basmalah.

3. Melafalkan niat. 

Niat ini diucapkan oleh mulut atau lisan kita dan dilakukan sebelum memulai wudhu. Sedangkan yang niat wudhu wajib diucapkan dalam hati adalah tatkala kita membasuh muka.

4. Membasuh dua telapak tangan.

Membasuh kedua telapak tangan dilakukan sebelum kita berkumur memasuhnya juga bersamaan dengan membaca Basmalah. Apabila airnya sedikit kemudian kedua telapak tangan kita langsung dimasukkan ke dalam air yang sedikit tersebut, maka hukumnya bisa makruh. Hal ini dikarenakan dikhawatirkan tangannya terkena najis tanpa disadari. Berbeda jika volume airnya banyak, maka tidak apa-apa langsung memasukkan telapaktangan kita pada air yang banyak tersebut.

5. Berkumur

Cara berkumur yang paling sempurna adalah memutarkan air dalam mulut lalu mengeluarkannya. Setelah berkumur, lalu menghirup air. Akan tetapi, jika kita sedang melakukan puasa, maka hukumnya bisa makruh. Hal ini dikarenakan air berkumur takut tertelan sehingga menyebabkan puasa kita menjadi batal.

6. Menghirup air ke dalam hidung (istinsyâq). 

Cara yang yang lebih sempurna dalam istinsyâq adalah dengan menghirup air hingga sampai ke hidung bagian atas lalu disemprotkan.

 

Berkumur dan istinsyâq sunnat dikumpulkan dalam tiga cidukan air. Maksudnya: satu ciduk air dibuat untuk berkumur, dan sisanya untuk menghirup air ke dalam hidung dan begitu selanjutnya sampai tiga kali.

Dalam berkumur dan istinsyâq juga sunnat dikeraskan (mubâlaghah).

7. Mengusap semua kepala 

Apabila dalam rukun wudu cukup membasuh sebagian kulit kepala atau sehelai rambut, maka dalam sunatnya adalah membasuh seluruh kepala. Adapuncarayangdisunnatkan adalah membasahi kedua telapak tangan dengan air, lalu ujung dua jari telunjuk dipertemukan, sedangkan ibu jari berada di pelipisKemudian usapkan jari telunjuk mulai dari kepala bagian depan sampai bagian belakang. Lalu kembalikan lagi ke depan.

8. Mengusap kedua telinga

Dalam mengusap kedua telinga bagian luar maupun dalam telinga sunat dilakukan sebanyak tiga kali dengan air yang baru. Sedangkan dalam praktek atau tata caranya adalah dengan cara memasukkan ujung jari telunjuk pada lubang telinga dan diputarkanpada lipatan telinga bagian dalam hingga sampai lubang telinga. Sedangkan ibu jari diputarkan di daun telinga bagian luar. Kemudian lakukan istizhhâr dengan cara menempelkan telapak tangan yang basah ke telinga. Kedua telinga boleh diusap secara bersamaan.

9. Menyelat-nyelati jari-jari.

Caranya, ketika membasuh kedua tangan adalah dengan berpanca (memasukkan jemari tangan kanan ke sela-sela jemari tangan kiri dan sebaliknya). Sedangkan ketika membasuh kaki dengan cara memasukkan jari kelingking tangan kiri ke sela-sela jemari kaki, dimulai dari kelingking kaki kanan sampai kelingking kaki kiri.

10. Membasuh atau mengusap anggota wudhu tiga kali.

Hali ini merupakan cara wudhu yang paling sempurna berdasarkan hadits A’robi (arab badui) tatkala ia bertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamtentang wudhu, kemudian beliaushallallahu ‘alaihi wa sallammengajarinya tiga kali-tiga kali. Selanjutnya beliaushallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Inilah cara berwudhu...” (HR. Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, shohih). Juga berdasarkan hadits Utsmanradhiyallahu ‘anhuyang suatu ketika memperlihatkan cara wudhu Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsmanradhiyallahu ‘anhuberwudhu tiga kali tiga kali kemudian berkata, “Aku melihat Nabi berwudhu seperti wudhuku ini…” (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun berwudhu sekali-sekali ataupun dua kali dua kali, ini pun juga diperbolehkan karena Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamjuga pernah melakukannya.

 

Basuhan yang kedua dan ketiga disunnatkan jika pada basuhan yang pertama (yang wajib) sudah sempurna. Apabila yang pertama belum rata maka yang kedua dan seterusnya masih dianggap yang pertama.

11. Mendahulukan yang kanan dalam membasuh kaki dan tangan serta mengakhirkan yang kiri.

Sedangkan selain kedua kaki dan tangan cukup dengan cara membasuh sekaligus seperti kedua pipi dan telapak tangan.

12. Menghadap kiblat,

Hal ini disunatkan karena arah kiblat adalah arah yang paling mulia.

13 .Jangan berbicara ketika berwudhu

Jangan berbicara dengan orang lain ketika sedang berwudhu kecuali berdzikir. Apabila memang ada hal yang penting atau darurat, maka silahkan jikamemang harus berbicara.

14. Jangan meminta bantuan orang lain.

Usahakanlah apabila kita mampu melakukan segala aktivitas wudhu oleh diri kita sendiri, maka lakukanlah sendiri dan jangan meminta bantuan orang lain. Meminta bantuan orang lain dalam membasuh atau mengusap dianggap taraffuh (memanjakan diri) dan perbuatan itu tidak pantas bagi orang yang beribadah. Akantetapi, jika kita tidak mampu karena suatu hal seperti sedang sakit, maka diperbolehkan meminta bantuan orang lain.

15. Tidak mengibaskan air yang tersisa pada anggota wudhu.

Mengibaskan air sisa wudhu terkesan seperti membebaskan diri dari ibadah.

16. Jangan mengusapkan handuk atau benda yang lainnya untuk mengeringkan air bekas wudhu yang menempel pada tubuh.

Hal itu karena menghilangkan bekas ibadah

17. Menggosok anggota wudhu yang dibasuh.

Dalam menggosok anggota wudhu lakukanlah secara merata.

18. Melebihkan basuhan dari batas wajah, tangan dan kaki.

Maksudnya adalah membasuh tangan sehingga mendekati dua bahu dan membasuh kaki sampai dua betis. Dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, dijelaskan bahwa:

وحَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِيُّ حَدَّثَنِيابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِعَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلاَلٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَيَتَوَضَّأُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِحَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِحَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِفَمَنْ اسْتَطَاعَمِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

Artinya: “Harun bin Said al-Ayli menceritakan padaku, Ibn Wahab menceritakan padaku, Umar bin al-Haris memberitakan padaku yang datangnya dari Said bin Abi Hilal, dari Nuaim bin Abdullah bahwasanya ia melihat Abu Hurairah berwudhu, lalu dia membasuh wajahnya, dan kedua tangannya sampai mendekati dua bahu. Kemudian membasuh kedua kakinya sampai atas hingga betis. Kemudian Abu Hurairah berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya umatku akan datang kelak di hari kiamat dengan keadaan bersinar dari bekas wudhu. Maka, barangsiapa dari kalian bisa memanjangkan pancaran itu maka lakukanlah.’”

(HR. Muslim)

19. Muwâlât.

Maksud dari muwalat adalah segera melanjutkan basuhan pada anggota wudhu berikutnya sebelum keringnya air basuhan di anggota wudhu sebelumnya. Jangan ditunda-tunda karena terpotong ngobrol dengan orang lain atau kita terdiam dulu.

20. Berdoa setelah wudhu.

 

Berdoa setelah wudhu disunatkan menghadap kiblat dengan mata ke arah langit sambil mengangkat kedua tangan kita. Adapun doanya sebagai berikut:

 

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُأَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَللَّهُمَّ اجْعَلْنِىمِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِن عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّوَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُإِلَيْكَ.

 

Artinya:  Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang ahli taubat, jadikanlah aku termasuk orang yang ahli bersuci dan jadikanlah aku termasuk golongan hamba-hamba-Mu yang shalih. Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

21. Membaca surat Al qodar sebanyak 3x

Dalam kitab Irsyadul Awam Ila Sabilis Salam dijelaskan bahwa setelah selesai berdo’a disunatkan membaca surat Al qodar sebanyak 3x. fadhilahnya adalah apabila setelah membaca do’a wudhu kemudian dilanjutkan membaca surat Al qodar sebanyak 3x, maka akan dibukakan pintu surga serta bisa memilih mau masuk pintu surga yang mana saja dan akan dikumpulkan bersama para nabi nanti di hari kiamat.

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ  

. إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ .2
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ .3   

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ .4    
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ .5