Sifat Qidam dan Sifat Baqa

2. Sifat Qidam (Terdahulu)

Berdasarkan penjelasan dalam kitab Irsyadul Ibad ila Sabilis Salam bahwa pengertian sifat qidam adalah tidak ada awal adanya Allah swt serta mustahil Allah swt adalah baru. Dalil daripada sifat qidam ini adalah kalau Allah baru tentu akan memerlukan pada yang membarukannya sedangkan jika Allah butuh pada yang membarukan adalah mustahil. Sifat baru ini adanya pada makhluk bukan pada Allah.

pengertian sifat wujud dan qidam

Sedangkan dalam kitab Fathul Madjid, Syekh Nawawi menjelaskan pengertian sifat qidam adalah tidak adanya permulaan bagi adanya Allah swt. Maksudnya adalah sesungguhnya adanya Allah ta'ala tidak ada awal baginya yaitu tidak didahului oleh tiada berbeda beda dengan makhluk. Makhluk pasti mempunyai awal dia ke dunia serta adanya proses penciptaan. Misalnya, terciptanya manusia adalah dari sperma. Untuk itu, makhluk didahului tidak ada. Dalil qidam/dahulunya Allah adalah sesungguhnya jika Allah tidak bersifat qidam/dahulu maka Ia adalah perkara baru.

Karena tidak ada wasithoh maupun perantara antara yang qodim dan yang baru, maka setiap sesuatu yang sifat qidam dinafikan darinya tetap/pastilah baginya sifat baru. Jika Allah ta'ala baru/makhluk maka Allah membutuhkan sesuatu yang mengadakan/menciptakan dan yang mengadakan Allah membutuhkan sesuatu yang mengadakan lagi. Jika perkara ini tidak ada kesudahan maka lazimlah tasalsul/ mata rantai yaitu mengikutinya sesuatu satu sesudah yang lain sampai tiada penghabisan. Jika ada penghabisannya yaitu dengan adanya sesatu yang mengadakan Allah diadakan oleh Allah maka lazimlah daur/berputar yaitu tawaqquf/berhentinya sesuatu atas sesuatu yang berhenti atas sesuatu yang depan maka sesungguhnya jika Allah ada yang mengadakan maka Allah berhenti/tawaqquf pada yang mengadakan/muhdits padahal kita telah mewajibkan bahwa Allahlah yang mengadakan muhdits ini. Kemudian muhdits ini tawaqquf atas Allah maka tetaplah yang namanya daur/berputar padahal semua dari daur dan tasalsul adalah perkara yang muhal yakni tidak mungkin adanya , dan perkara yang menyampaikan kepada muhal yaitu barunya Allah ta'ala adalah muhal juga

Hasil kesimpulan dalil ini dapat engkau ucapkan "Jika Allah tidak qodim/dahulu tanpa permulaan maka Ia adalah huduts/baru/makhluk. Jika Allah huduts maka Allah membutuhkan yang mengadakan/muhdits, maka tetaplah adanya daur/berputar atau tasalsul/mata rantai tiada habisnya dan setiap keduanya dari daur dan tasalsul adalah mustahil. Karena perkara yang menyampaikan kepada mustahil yaitu barunya Allah adalah pekara mustahil, maka tetaplah sifat qidamnya Allah dan ini yang dicari dan jika tetap sifat qidamnya Allah maka menjadi mustahil barunya Allah yang mana sifat barunya Allah ini adalah lawan/kebalikan sifat qidamnya Allah

و معناه عدم الأولية للوجود أى أن وجود الله تعالى لا أول له اى لم يسبقه عدم بخلاف الحوادث فإن وجودهم له أول و هو خلق النطفة التي خلقوا منها فقد سبقهم العدم والدليل على قدمه تعالى أنه إذا لم يكن قديما لكان حادثا

لأنه لا واسطة بين القديم و الحادث فكل شيئ انتُفِي عنه القدم ثبت له الحدوث و إذا كان تعالى حادثا افتقر إلى محدث يحدث و افتقر محدث إلى محدث فإن لم ينتهى الأمر لزم التسلسل و هو تتابع الأشياء واحدا بعد واحد إلى ما لا نهاية له و إن انتهى الأمر بأن كان المحدث الذي أحدث اللهَ تعالى أحدث الله لزم الدور و هو توقف شيئ على شيئ آخر توقف عليه فإنه إذا كان لله تعالى محدث كان متوقفا على هذا المحدث و قد فرضنا أن الله تعالى أحدث هذا المحدث فيكون هذا المحدث متوقفا على الله تعالى فيلزم الدور و كل من التسلسل و الدور محال أى لا يمكن وجوده و الذي أدى إلى المحال و هو حدوثه تعالى محال

و حاصل الدليل أن تقول لو كان الله غير قديم لكان حادثا و لو كان حادثا لافتقر إلى محدث فيلزم الدور او التسلسل و كل منهما محال فما أدى إليه و هو حدوثه تعالى محال فثبت قدمه و هو المطلوب و إذا ثبت قدمه استحال عليه الحدوث الذي هو ضد القدم

3. Sifat Baqa (Kekal)

Berdasarkan penjelasan dalam kitab Irsyadul Ibad ila Sabilis Salam bahwa pengertian sifat Baqa adalah kekalnya Allah swt mustahil untuk ruksaknya. Dalilnya adalah kalau adanya keruksakan tentu hal tersebut menandakan baru. Sedangkan baru bagi Allah adalah mustahil.

Sedangkan dalam kitab Fathul Madjid, Syekh Nawawi menjelaskan pengertian sifat baqa adalah tiada akhir bagi wujud/adanya , maka makna "adanya Allah ta'ala adalah Dzat yang kekal" adalah sesungguhnya Allah tiada akhir bagi adaNya yakni tidak datang atas Allah sifat 'adam/tiada , dalil aqliy atas baqo'nya Allah ta'ala adalah sesungguhnya jika Allah boleh disusul/tertimpa/dapat terkena tiada maka Allah itu baru/makhluk , wajahnya begini sesungguhnya sesuatu yang kedatangan/tertimpa/tersusul sifat tiada maka hilanglah sifat qidam/dahulunya karena setiap perkara yang kedatanngan sifat tiada itu adanya hanya jaiz/boleh padahal setiap perkara yang adanya hanya jaiz/boleh/mungkin itu baru/makhluk padahal setiap yang baru/huduts tidak punya sifat qidam/dahulu , sedangkan telah lalu tetapnya sifat qidam/dahulu bagi Allah ta'ala dengan dalil (aqliy)

Hasilnya dalil adalah engkau ucapkan "Jika tidak wajib/pasti bagi Allah sifat baqo'/kekal yaitu bolehnya sifat 'adam atas Allah maka hilang/tiadalah sifat qidam/dahulu dari Allah , padahal sifat qidam/dahulu tidak sah hilangnya dari Allah ta'ala karena dalil yang telah dahulu pembahasannya , maka tetaplah bagi Allah sifat baqo'/kekal , dan jika tetap bagi Allah sifat baqo'/kekal maka mustahillah datangnya sifat 'adam/tiada yakni fana/rusak/hilang yang mana fana'/rusak adalah lawannya sifat baqo'/kekal

الصفة الثالثة الواجبة له تعالى البقاء و معناه عدم الأخرية للوجود فمعنى كون الله تعالى باقيا أنه لا آخر لوجوده أى لا يطرأ عليه العدم و الدليل على بقائه تعالى أنه لو جاز أن يلحقه العدم لكان حادثا ووجهه أن الشيئ الذي يطرأ عليه العدم ينتفي عنه القدم لأن كل ما طرأ عليه العدم يكون وجوده جائزا وكل من كان وجوده جائزا يكون حادثا وكل حادث ينتفي عنه القدم و قد تقدم ثبوت القدم له تعالى بالدليل

و حاصل الدليل أن تقول إذا لم يجب له البقاء بأن كان يجوز عليه العدم لانتفى عنه القدم و القدم لا يصح انتفائه عنه تعالى للدليل المتقدم فثبت له البقاء و إذا ثبت له البقاء استحال عليه طروّ العدم أي الفناء الذي هو ضد البقاء