Rasulullah Saw Sakit

Tahun pun terus berlalu. Terasa kehidupan ini telah mendekati ajalnya. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertimpa sakit setelah berlangsungnya Haji Wada’. Sakit tersebut terjadi setelah menunaikan ibadah haji bersama Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Ali juga di sertai semua para istri-istri Nabi dan para sahabat. Ketika mereka kembali semua ke Madinah nampak sebuah kesedihan di wajah Sayyidatuna Fathimah dan mulai merasakan sesuatu. Sayyidina Ali berkata, “Apa yang ada di benakmu, Wahai Putri Rosulillah, sehingga kau nampak bersedih..?”

daily hadith online

Sayyidatuna Fathimah berkata, “Wahai putra Abi Tholib, sungguh Demi Allah aku telah merasa dekatnya sebuah perpisahan dengan ayahku. Aku merasa ajal ayahku telah dekat.”

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fiqhus Sirrah bahwa, permulaan sakit Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa’ad dari Abu Muwaihibah, mantan budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah saw bah Rasulullah saw pernah mengutusku pada tengah malam seraya berkata, “Wahai Muwaihibah, aku diperintahkan memintakan ampunan untuk penghuni kuburan Baqi ini. Karenanya, marilah pergi bersamaku.” Kemudian Muwaihibah pun pergi menemani Rasulullah Saw. Ketika sampai di Baqi, Beliau saw mengucapkan, “Assalamu’alaikum, ya ahlal maqabir ! semoga diringankan siksaan atas kalian karena dosa yang pernah kalian lakukan, sebagaimana apa yang pernah dilakukan manusia. Berbagai fitnah datangseperti gumpalan-gumpalan malam yang gelap, silih berganti, yang akhir lebih buruk dari yang pertama.” Beliau saw kemudian menghampiriku seraya bersabda, “Sesungguhnya aku diberi kunci-kunci kekayaan dunia dan keabadian didalamnya. Lalu aku disuruh memilih antara hal tersebut atau bertemu Rabbku dan surga.”

Muwaihibah berkata, “Ayah dan ibuku yang jadi tebusanmu, ambillah kunci-kunci dunia dan keabadian didalamnya kemudian surga. “Nabi saw bersabda, “Demi Allah, tidak, wahai Abu Muwaibah! Aku telah memilih bertemu dengan Rabbku dan surga. Nabi saw kemudian memintakan ampunan untuk penghuni Baqi’ dan meninggalkan tempat itu. Sejak itulah Nabi saw merasakan sakit. Pertama Nabi saw merasakan sakit dibagian kepalanya sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah. Sakit dibagian kepala itu semakin bertambah berat sehingga menimbulkan demam yang serius. Permulaan sakit ini terjadi diakhri bulan shafar tahun ke 11 Hijriah.

Pada saat Nabi saw sakit, sayyidah Aisyah senantiasa menjampinya dengan sejumlah ayat mu’awwidzat (permintaan perlindungan pada Allah). Diriwayatkan juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Urwah, bahwa Sayyidah Aisyah mengabarkan, “Sesungguhnya Rasulullah saw apabila merasa sakit, beliau meniupkan sendiri dengan mu’awwidzat dan mengusapkan dengan tangannya. Akan tetapi, ketika Beliau saw mengalami sakit kepala hingga wafatnya, akulah yang meniup dengan mu’awwidzat kemudian aku usapkan ke tangan Nabi saw.

Ketika mulai jatuh sakit, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di rumah Sayyidatuna ‘Aisyah yang mana sering kali rasa sakit tersebut membuat sang Nabi pingsan.

Rasa sedihpun mulai memerangi dan menindas hati sang bunga. Coba bayangkan bagaimana pedih hati sang bunga menahan. Sungguh Demi Allah, hati yang mulia ini terasa amat sangat pedih. Setelah kepedihan terlewati, kini rasa pedih yang sangat luar biasa yang tidak dapat di bayangkan, jika telah di tinggal oleh orang-orang yang di cintainya. Akan tetapi yang ini adalah yang paling di cinta dan di sayangi. Ini adalah kekasih yang agung di sisi Zahro’ karena ia adalah Rosulullah atau Utusan Allah beliau juga tak lain adalah ayahnya. Dan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah segala-galanya dalam hidupnya.

Dalam Kitab Fiqhus Sirrah dijelaskan bahwa ketika fajar hari senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriah telah masuk dan orang-orang pun tengah shalat dibelakang Abu Bakar, tiba-tiba kain penutup yang melintang di kamar Aisyah Ummul Mu’minin terbuka dan Rasulullah Saw pun munculdari baliknya sambil tersenyum memandang mereka yang tengah berbaris shalat. Mereka nyaris menangguhkan shalat hendak keluar dari shaf karena bergembira menyaksikan Nabi saw. Akan tetapi, beliau saw segera memberi isyarat dengan tangannya agar mereka tetap melanjutkan shalat. Beliau saw kemudian masuk kamar lagi seraya melabuhkan kain penutup itu.

Karena mengira Nabi saw telah sembuh dari sakitnya, maka setelah shalat para sahabat pun bergegas meninggalkan masjid dan menemui Nabi saw. Akan tetapi, itu adalah pandangan perpisahan beliau saw kepada para sahabatnya. Nabi saw ke kamar Aisyah lalu berbaring seraya menyandarkan kepalanya di dada Aisyah, menghadapi sakratul maut. Aisyah berkata, “Saat itu dihadapan beliau terdapat bejana berisi air kemudian mengusapkannya ke wajahnya seraya berkata, “La Ilaha Iallallah. Sesungguhnya, kematian itu mempunyai sekarat.”

Ketika Sayyidatuna Fathimah melihat ayahnya pingsan, bangun dan pingsan, berteriak dan berkata, “Alangkah menderitanya ayahku..!” Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Setelah hari ini ayahmu tidak akan merasakan penderitaan lagi, Wahai Fathimah”.

Sayyidah Aisyah berkata, “Sesungguhnya, Allah telah menghimpun antara ludahku dan ludahnya pada saat kematian Beliau Saw. Ketika aku sedang memangku Rasulullah Saw, tiba-tiba Abdurahman masuk sambil membawa siwak. Aku melihat Rasulullah Saw terus-menerus memandangnya sehingga aku tahu kalau beliau menginginkan siwak. Aku tanya, “ku ambilkan untuk anda Ya Rasulallah?” setelah memebri isyarat “Ya” lalu kuberikan siwak itu kepada Rasulullah Saw. Karena siwak itu terlalu keras, ku tawarkan untuk melunakkannya dan Beliau saw memberikan isyarat setuju.