Perpecahan Pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Syahidnya Ali bin Abi Thalib

Ketika pasukan Khalifah Ali pulang dari Shiffin dan kembali ke Kufah, maka disitulah perpecahan muncul diantara pasukan. Sekitar 12.000 pasukan memutuskan mundur dari pasukan Khalifah. Bahkan mereka dengan tidak sopannya berani bilang bahwa mereka telah memecat Ali dari jabatannya sebagai Khalifah. Alasan mereka karena Ali mau menerima tahkim sewaktu di Shiffin. Menurut pandangan mereka tahkim merupakan suatu kesesatan. Ke12.000 pasukan tersebut semuanya berkumpul di Harura. Akhirnya Khalifah mengutus Abdullah bin Abbas untuk menasihatinya, namun mereka tidak mau mendengar nasihat dari Abdullah bin Abbas. Akhirnya Khalifah pun turun tangan langsung dan menasihati mereka. Akhirnya mereka pun mau menerima pandangan Khalifah.

220px Rashidun Caliph Ali ibn Abi Talib علي بن أبي طالب.svg

Setelah batas waktu yang ditentukan habis yakni telah datangnya Ramadhan, kedua belah pihak berkumpul di Daumatul Jandal dengan membawa perwakilannya masing-masing yaitu Abu Musa al-Asy’ari dan Amr ibnul Ash. Akan tetapi, dalam pertemuan tersebut tidak mencapai kata sepakat tentang kepada siapa urusan umat atau Khalifah ini diserahkan. Abu Musa al-Asy’ari setuju untuk mencopot Ali dan Mu’awiyah kemudian tidak memilih khilafah kecuali Abdullah bin Umar, tetapi ia sendiri tidak mau ikut campur dalam sendiri. Ketika itu kedua tahkim tersebut telah sepakat untuk mencopot Ali dan Mu’awiyah.

Selanjutnya keduanya harus menyerahkan hal ini kepada syura kaum muslimin guna menentukan pilihan mereka sendiri. Kemudian Abu Musa al-Asy’ari berpidato didepan khalayak, ia katakan bahwa tidak ada yang lebih baik guna mewujudkan persatuan kecuali mencopot jabatan Ali dan Mu’awiyah seperti yang telah disepakati dengan Amr ibnul Ash. Kemudian selesai berpidato Abu Musa pun mundur dan mempersilahkan Amr ibnul Ash untuk maju.

Akan tetapi, pidato Amr bin Ash berbeda dengan Abu Musa, Amr bin Ash berpidato dia mengukuhkan kawannya yakni Mu’awiyah karena ia adalah ‘putra mahkota’ Utsman bin Affan, penuntut darahnya dan orang yang paling berhak menggantikannya.

Setelah tahkim ini, orang-orang pun bubar dengan rasa kecewa dan tertipu. Orang-orang pun kembali ke negerinya masing-masing. Amr bin Ash dan kawan-kawannya segera menyerahkan menemui Mu’awiyah dan menyerahkan khilafah padanya. Sedangkan Abu Musa pergi ke Makkah dan tidak kembali ke Ali karena malu untuk bertemu. Akhirnya Ali tahu peristiwa tersebut setelah Ibnu Abbas dan Syuraih bin Hani’ kembali kepada Ali dan meceritakan semuanya.

Berbagai situasi buruk situasi buruk tempaknya masih harus dihadapi oleh Amirul Mu’minin Ali. Pasukannya mengalami keguncangan. Sejumlah besar penduduk Irak melakukan pembangkangan terhadapnya, sementara masalah di Syam pun semakin meningkat. Mereka berpropaganda ke berbagai penjuru, seperti dikatakan oleh Ibnu Katsir, bahwa kepemimpinan telah berpindah ke tangan Mu’awiyah sesuai dengan keputusan dua hakim. Para penduduk Syam semakin bertambah kuat, sdangkan para penduduk Irak semakin bertambah lemah.

Kendati mereka tahu betul bahwa Ali pemimpin mereka adalah orang yang terbaik di muka bumi saat itu, orang yang paling zuhud, paling alim serta orang yang paling takut kepada Allah, tetapi mereka tetap tega mengkhianatinya sampai membuatnya membenci kehidupan dari mengharapkan kematian. Belum lagi permasalahan kaum khawarij yang dimana-mana melakukan kerusuhan serta pembunuhan. Sehingga Ali pun harus menumpas pergerakan ini.

Hingga suatu waktu ada seorang tokoh Khawarij yang bernama Abdurrahaman bin Muljim. Ia bermaksud untuk melamar gadis pujaannya yang bernama Qitham. Karena ayah dan saudaranya terbunuh di peristiwa Nahrawan, ma ia memberikan syarat kepada Abdurrahman bin Muljim agar membunuh Ali jika ia menikahinya. Setelah mereka menikah, Abdurrahman bin Muljim pun melaksanakan niatnya untuk membunuh Ali.

Pada malam Jum’at 17 Ramadhan tahun 40 H, Abdurrahman bin Muljim bersama 2 orang temannya mengincar Ali didepan pintu yang biasa Ali lewati. Memang kebiasaan menantu Nabi saw ini sungguh mulia, setiap hari ia membangunkan orang-orang untuk shalat shubuh. Tetapi, pada waktu itu Ali dikejutkan dengan kehadiran Abdurrahman bin Muljim. Seketika Abdurrahman bin Muljim langsung memukul kepala Ali dengan pedang sehingga darah mengalir deras ke jenggotnya.

Kemudian Abdurrahman bin Muljim pun kabur. Kemudian Ali berkata pada para sahabatnya, “Jika aku mati, bunuhlah ia, tetapi jika aku hidup, aku tahu bagaimana harus bertindak padanya.” Ketika sakratul maut, Ali tidak mengucapkan kalimat apa pun kecuali La Illaha ilallah. Beliau wafat pada usia 60tahun sedangkan khilafahnya berlangsung selama 5 tahun kurang 3 bulan.

Ibnu Katsir menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Ali dikubur di Darul Imarah (rumah keamiran) di Kufah. Akan tetapi, kebanyakan para ahli sejarah mengatakan bahwa kaum kerabat dan para pendukungnya menyembunyikan kuburannya karena khawatir terhadap tindakan khawrij. Banyak sekali pendapat yang dikemukakan tentang tempat pemakamannya. Ada yang mengatakan ia dipindahkan ke Baqi atau dipindahkan ke tempat yang lain. Sementara itu, Ibnu Muljim pelaksanaan qishashnya dilakukan oleh Hasan bin Ali kemudian jasadnya dibakar dengan api.

Kaum khawarij ini seluruhnya berasal dari orang-orang Arab Badui yang berwatak kasar dan emosional. Mereka tidak mengenal sama sekali kaidah-kaidah ilmu pengetahuan sehingga mereka mudah sekali memperturutkan hawa nafsu dan kekerasan watak mereka yang pada akhirnya berani mengkafirkan Khalifah Ali karena beliau menerima tahkim. Kemudian dari sikap mereka ini, lahirlah pandanganmereka mengkafirkan semua orang yang melakukan dosa besar. Sebagian mereka bahkan mengkafirkan orang yang melakukan maksiat apa pun bentuknya.

Pengaruh-pengaruh “ekstrimisme” ini sampai sekarang tetap ada. “Hobi” mengkafirkan sesama muslim karena sebab ringan hanyalah cermin dari pola pikir ekstrem ini. Pola pikir ini memang pola pikir yang menolak ilmu dan syariah serta menentang segala akidahnya (Fiqhus Sirrah, Syekh Sa’id Ramadhan Al Buthy). Wallohu’alam