Pernikahan Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fathimah Az Zahra

Dalam Manaqib Sayyidatuna Fathimah Az Zahra yang disusun oleh Al Alamah Al Arifbillah Al Habib Umar bin Hafidz, beliau menjelaskan bahwa tatkala usia Fathimah mencapai 18 tahun, maka sebagian sahabat datang melamarnya. Salah satunya adalah Abu Bakar yang datang langsung ke Rasulullah untuk melamar Fathimah. Akan tetapi, Rasulullah hanya diam dan berkata, “Aku menunggu perintah dari Allah.” Kemudian Umar bin Khathab pun datang dengan maksud yang sama dan Rasulullah pun menjawab dengan jawaban yang sama.

ali fathimah2

Kemudian, Abu Bakar dan Umar mendatangi Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Wahai Ali engkau termasuk salah satu orang yang pertama masuk Islam, engkau adalah orang yang pantas dan berhak memilikinya, engkau juga adalah sepupunya.”untuk itu, lamarlah Fathimah olehmu. Abu Bakar dan Umar memberi semangat pada Ali. Maka, berangkatlah Ali dalam keadaan sangat malu, lalu masuklah beliau kepada Rasulullah dengan rasa malu yang sangat besar, duduk di hadapan Rasulullah dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dari mata Sayyidina Ali terpancar sebuah kata-kata dan rasa malu.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang ada di benakmu wahai Ali ?”
ayyidina Ali menjawab dengan mata yang berkaca-kaca, “Terlintas di benakku Fatimah duhai Rasulallah”.

Maka Rasulullah menjawab, “Marhaban wa ahlan”

Ali pun terdiam dan tersipu malu. Begitu juga Nabi terdiam dan malu beberapa saat yang cukup lama. Dalam benak Rasulullah ingin Ali tuk membuka pembicaraan, dan Sayyidina Ali dalam keadaan malu yang sangat sehingga tak mampu meneruskan kata-katanya. Maka, keluarlah Ali dan para sahabat telah menunggu di luar dan bertanya, “Apa yang Rasulullah katakan padamu ?”

Ali menjawab,”Rasulullah berkata ‘marhaban wa ahlan’”.

Para sahabat berkata “Wahai Ali cukup seandainya Rasulullah berkata padamu satu saja. Tapi Rasulullah telah memberimu dua jawaban yaitu ‘marhaban wa ahlan’ tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah telah menyetujuinya.

Dalam riwayat yang lain: Ketika Rasulullah berada di masjid, Rasulullah berkata bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menikahkan Fatimah dengan Ali di langit dan aku telah menikahkannya dengan Ali, maka semua sahabat yang ada di masjid pun menjadi saksi.

Di sebagian riwayat mengatakan: Rasulullah berkata kepada Sayyidina Ali ”Hai Ali apakah kau memiliki sesuatu yang bisa kau jadikan sebagai mahar?”

Maka, Ali berkata, “Wahai Rasulullah aku tak memiliki sesuatu apapun kecuali pedang dan baju perangku.”

Karena Ali tergolong orang yang tidak mampu, yang tumbuh besar dalam didikan Rasulullah, seperti kita ketahui bahwa Beliau hidup dalam kezuhudan dan kemiskinan yang tidak memiliki apa-apa maka Ali pun menjawab seperti itu.

“Duhai Ali mengenai pedangmu engkau harus tetap menggunakannya untuk berperang di jalan Allah sedang baju zirahmu jualah!” Maka Utsman membeli baju perang tersebut dengan harga 480 dirham lalu Sayyidina Ali memberikan hasil penjualan itu kepada Rasulullah.

Rasulullah mengambil 1/3-nya untuk membeli minyak wangi dan sebagian digunakan untuk menghias rumah Fatimah.

Disebutkan dalam sebagian riwayat Rasulullah masuk kamar Fatimah untuk bermusyawarah dengannya dan berkata, “Wahai Fatimah sesungguhnya Ali ingin meminangmu dan kau telah mengenal Ali dengan baik.”

Maka Sayyidatuna Fatimah diam dan tersipu malu. Rasulullah mengetahui dengan diamnya Fatimah itu berarti dia telah ridho dan menyetujuinya. Maka dimulailah persiapan untuk menggelar pernikahannya.

Hamzah datang dengan membawa dua onta yang sangat istimewa sebagai jamuan makan untuk para tamu-tamu yang datang.

Sayyidatuna Aisyah berkata, “Maka kami memakan kurma dan kismis, demi Allah aku tak melihat pernikahan yang lebih mulia dari pernikahan Fatimah.”

Maka dengan ‘Inayah Allah Subhanahu wa Ta’ala di mulailah perayaan pernikahan. Nabi pun keluar dengan membawa bighol atau binatang sejenis kuda dan berkata “Naiklah wahai putriku Fatimah.”

Lalu beliau menyuruh Salman, ” Bawa dan tuntun ia menuju rumah Ali ”

Rasulullah mengikuti di belakang dengan Hamzah beserta keluarga Bani Hasyim sebagai arak-arakan menuju rumah Ali.

Rasulullah menyuruh sebagian perempuan perempuan untuk mengarak Fatimah dengan disertai lantunan sya’ir-sya’ir pujian dan takbir kepada Allah, serta menarik Fatimah dalam arak-arakan tersebut.

Sungguh pernikahan yang sangat indah dan meriah. Pernikahan yang membuat seluruh alam riang gembira.

Pernikahan sang putri yang akan menjadi pemimpin para wanita di surga nantinya.

Pernikahan yang akan menghasilkan para kesatria-kesatria yang akan menjadi pemimpin pemuda di surga.

Keesokan harinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang kepada kedua pengantin ini kemudian berdo’a :

“(Ya Allah, kumpulkan mereka dalam kebaikan dan satukan hati mereka berdua dan berikan pada mereka keturunan yang menjadi penduduk surga. Serta berikan atas mereka berdua sebuah keturunan yang bagus, yang suci,yang penuh keberkahan. Dan jadikan setiap anak cucu mereka keberkahan dan jadikan mereka semua para pemimpin yang memberi hidayah dengan perintah-perintah-Mu kepada ketaatan)”

Sahabat Anas berkata, yang mana beliau adalah periwayat semisal doa-doa ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau berkata “Demi Allah, telah Allah keluarkan dari mereka berdua (Fatimah dan Ali) keturunan-keturunan yang banyak dan baik.

Sahabat Anas memiliki umur yang panjang setelah meninggalnya Rasulullah Saw.. Beliau mendapati zaman Hasan dan Husain, juga mendapati zaman anak Hasan dan Husain. Bahkan beliau mendapati zaman cucu dari pada Hasan dan Sayyidina Husain.

Sahabat Anas menemukan mereka adalah keturunan yang banyak dan baik dari Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersumber dari suatu rumah yang agung. Suatu rumah yang dipenuhi dengan kefakiran dan kekurangan, rumah yang diliputi kezuhudan dan keridhaan.

Begitu juga Ali berada dalam sebuah kamar yang penuh kezuhudan dalam urusan dunia, yaitu kamar yang penuh kewaraan, sebuah kamar yang diliputi sifat sabar. Yang mana Fatimah tidak pernah merasa letih lisannya untuk berdzikir, malamnya dihiasi dengan Qiyamul Lail, dan siangnya dihiasi dengan puasa. Begitu juga Ali mujahadahnya tidak kalah dengan Fatimah. Yang mana beliau seorang yang ahli ibadah dan mujahadah, yang tidak pernah merasa lelah dalam menjalankan ketaatan dan jihad fi sabilillah.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua termasuk dalam lingkupan kebahagiaan ini dan di catat sebagai orang-orang yang akan singgah di telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta minum dari kedua telapak tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk ke surga Allah Subhanahu wa Ta’ala nanti.. Aamiin..