Perceraian Sayyidatuna Ruqayyah dan Ummu Kultsum

Ketika dakwah Nabi saw mulai secara terang-terangan, maka pada waktu itu pula banyak dari kalangan kafir Quraisy yang tidak senang terhadap dakwah Nabi saw. Bahkan paman Nabi saw pun yang bernama Abu Lahab ikut memusuhi Nabi saw. Dengan partnernya Abu Lahab, mereka berdua terus memusuhi Nabi saw bahkan berusaha untuk mencelakakan Nabi saw beserta para sahabat Nabi saw. Selain itu, keluarga Nabi pun ikut merasakan betapa beratnya sakwah Nabi saw.

wanita islam

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sayyidatuna Fatimah melihat ayahnya tetap sabar dan berusaha untuk sabar, ayahnya selalu bermujahadah atau berusaha dan bersukur. Yang mana tidak keluar dari lisannya kecuali kata-kata yang baik, juga tidak menyimpan dalam hati kecuali hal-hal yang baik. Sayyidatuna Fatimah mengambil pelajaran yang sangat berharga yaitu Ar-Rahmah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian Quraisy melibatkan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam permusuhannya, tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melindungi keluarganya dari gangguan Quraisy. Ummu Jamil (istri Abu Lahab) berkata, “Wahai kedua anakku kepalaku dan kepala kalian haram bersetuhan jika kalian tetap bersama anak-anak Muhammad.”

Utsbah dan Utaibah anak Abu Lahab menikah dengan Rugayyah dan Ummu Kultsum putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka Utsbah dan Utaibah menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kulsum. Di tengah panasnya terik matahari kedua putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut berjalan meninggalkan rumah suaminya. Perempuan yang masih muda dan cantik kembali ke rumah ayahnya dengan hati yang penuh luka dan kesedihan.

Bayangkan, bagaimana keadaan seorang anak perempuan yang baru saja melaksanakan pernikahan, dan merasakan manisnya kasih sayang dan kegembiraan harus merasakan pedihnya dan pahitnya perceraian..? Apa salah mereka..? Apa dosa mereka..? Mereka tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Mereka tidak melakukan dosa apapun. Akan tetapi karena keras kepala, kebencian dan kebodohan. Maka, kembalilah Ruqqayyah dan Ummu Kulsum dengan hati penuh kekecewaan.

Fatimah menyambut kakak-kakaknya dengan aliran air mata. Bayangkan, apa yang terlintas di benak Fatimah..? Mereka pergi dengan kegembiraan di malam pengantin, dan kembali dengan penuh kesedihan dan kekecewa’an. Fatimah dan kedua kakaknya duduk di kamar saling menangis dan berbagi rasa.

Sedangkan Zainab telah menikah dengan Abul As bin Robi’. Orang-orang kafir Quraisy terus menekan dan memaksa Abul As agar menceraikan putri nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Zainab. Akan tetapi Abul As tidak menghiraukan perkataan Quraisy karena Abul Ash sangat mencintai Zainab, dan Zainab pun sangat mencintainya.

Ketika umur Sayyidatuna Fatimah 10 tahun, datang perintah untuk hijrah ke negeri Habasya. Karena keadaan muslimin di Makkah sangat memprihatinkan atas gangguan-gangguan orang Quraisy.

Di satu sisi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan purtrinya Ruqayyah dengan Sayyiduna Utsman, Sayyiduna Utsman adalah orang pertama yang hijrah dalam islam ke negeri Habasya berserta istrinya Ruqayyah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda, “Sesungguhnya Utsman adalah orang yang pertama kali hijrah dengan keluarganya setelah Luth As.”

Ruqayyah mendapatkan kedudukan yang mulia ini (sebagai orang yang pertama hijrah dalam Islam). Kita lihat bagaimana Nabi Saw. meneguhkan keluarganya. Yang mana keluarga beliau selalu terdepan dalam ujian dan cobaan, selalu terdepan dalam perkara-perkata yang sulit. Putri beliau adalah wanita yang pertama kali hijrah (menempuh perjalanan yang penuh kesulitan di tengah terik matahari dan melewati gurun pasir yang penuh rintangan). Kalau kita cermati, kita temukan dalam sejarah Islam keluarga beliaulah yang pertama kali mengorbankan diri mereka demi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan agama ini.

Sayyidina Utsman dan Ruqayyah kembali dari Habasya saat turunnya wahyu Surat An-Najm dan mengira bahwa orang Quraisy telah masuk Islam. Sayyidatuna Fatimah gembira setelah lama berpisah dengan seorang kakak tercinta. Sayyidatuna Fatimah menyambut dengan gembira dan berpelukan. Kemudian mereka kembali untuk kedua kalinya ke Habasya setelah terbukti bahwa kabar ke islam Quraisy adalah dusta.

Masih tetap rumah dan keluarga yang mulia ini dalam keadaan seperti ini. Yang ini pergi, yang ini datang. Yang ini menikah, yang ini diceraikan. Cobaan demi cobaan silih berganti, akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam laksana gunung yang kekar tidak bergerak sedikitpun, pantang menyerah dan selalu sabar. Di mana tidak berlalu waktu atau hari melainkan dikorbankan demi agama ini.