Perang Shiffin

Setelah beres dengan perang unta, Khalifah kembali ke Kufah. Di kota ini, khalifah menjadikannya sebagai pusat pemerintahannya. Jika para Khalifah sebelumnya menjadikan Madinah tetap sebagai pusat pemerintahan, akan tetapi Khalifah Ali mengalihkan pusat pemerintahannya ke Kufah. Setelah itu, khalifah mengutus utusan yang bernama Jurair bin Abdullah Al-Bajli ke Syam untuk menemui Mu’awiyah. Intinya adalah untuk mengajak Mu’awiyah bergabung dalam pemerintahan Khalifah seperti yang dilakukan oleh para sahabat Muhajirin dan Anshor yang telah memba’iatnya sebagai Khalifah. Akan tetapi, Mu’awiyah menolak. Ia menganggap bahwa pengangkatan Khalifah tidak sah karena tidak melibatkan semua orang termasuk dirinya. Selain itu, Mu’awiyah menuntut supaya dilakukan hukum qishash bagi para pembunuh Utsman.

gambar uhud 300x208

Akan tetapi, khalifah berkeyakinan bahwa pembaiatan dirinya sah karena merupakan kesepakatan ahlul Madinah, Darul Hijrah Nabawiyah. Sementara bagi orang-orang yang terlambat bergabung dalam pembaiatan karena tinggal diluar Madinah diminta untuk segera bergabung dalam pembaiatan tersebut.

Setelah mendengar penolakan dari Mu’awiyah, Khalifah langsung menanggapinya sebagai “pemberontak” serta keluar dari “Jama’atul Muslimin” dan imam mereka. Khalifah kemudian mengumpulkan seluruh pasukannya pada 12 Rajab rahun ke 36 H lalu dikumpulkan di kota Nakhilah. Khalifah memobilisasi pasukannya untuk memerangi masyarakat Syam khususnya Mu’awiyah supaya mereka tunduk kepada Jama’atul Muslimin. (Al-Bidayah wan-Nihayah)

Tak mau ketinggalan pula, Mu’awiyah pun mengerahkan seluruh pasukannya dan kedua pasukan tersebut bertemu di daratan Shiffin di tepi sungai Eufrat. Kedua pasukan tidak saling serang meyerang. Tetapi, saling kirim utusan untuk berunding selama 2 bulan bahkan lebih. Khalifah Ali membujuk Mu’awiyah untuk mau bergabung membaiatnya serta memastikan akan mengqhishash pembunuh Utsman dalam waktu dekat. Akan tetapi, Mu’awiyah mempunyai pandangan lain yaitu supaya Ali agar menangkap terlebih dahulu pembunuh Utsman ayng merupakan anak pamannya sebelum melakukan segala sesuatu. Karena itu, Mu’awiyah adalah orang yang paling berhak menuntut darahnya. Selama perundingan berlangsung, pertempuran kecil pun terjadi. Kedaan seperti ini terus berlangsung sampai bulan Muharram tahun 37 H. dimana pada bulan Muharram ini kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama sebulan.

Sebetulnya gencatan senjata ini dilakukan selama sebulan dengan harapan terjadinya ishlah diantara kedua belah pihak. Akan tetapi, hal tersebut tetap tidak terjadi. Pada akhirnya kedua belah pihak memobilisasi pasukannya dari berbagai arah. Khalifah Ali berwasiat kepada pasukannya agar tidak mendahului penyerbuan hingga penduduk Syam yang memulai duluan, tidak menyerang oarang yang luka, tidak mengejar orang yang mundur dan melarikan diri serta tidak membuka aurat wanita dan tidak pula menganiayanya.

Selama 7 hari kedua belah pihak bertempur dengan sangat sengit sampai akhirnya pasukan Mu’awiyah mulai terdesak dan Pasukan Khalifah Ali hampir dipastikan memenangkan pertempuran.

Syekh Sa’id Ramadhan dalam kitabnya Fiqhus Sirrah menjelaskan bahwa tatkala pasukan Mu’awiyah hampir kalah, ia dan Amr Ibnul Ash berunding. Amr ibnul Ash mengusulkan supaya Mu’awiyah mengajak penduduk Irak untuk berhukum pada kitab Allah. Mu’awiyah lalu memerintahkan orang-orang supaya mengangkat Mushaf Qur’an di ujung tombak dan memerintahkan seorang petugas untuk menyerukan atas namanya. “Ini adalah Kitabullah di antara kami dan kalian. “Ketika melihat kejadian ini, pasukan Khalifah Ali terjadi peselisihan padahal kemenangan sudah ada didepan mata. Ada yang setuju berhukum pada Kitabullah ada juga yang ingin meneruskan peperangan karena kemenangan sudah didepan mata dan pertimbangan dikhawatirkan hal tersebut merupakan tipu daya dari Mu’awiyah yang sudah hampir kalah.

Sebetulnya Khalifah Ali cenderung pada pendapat terakhir, tetapi terpaksa mengikuti pendapat pertama yang merupakan pendapat mayoritas. Khalifah kemudian mengutus al-Asy’ats bin Qaia kepada Mu’awiyah. Akhirnya kedua belah pihak bertemu dan bersumpah kepada kedua wakil tersebutuntuk memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah. Apapun yang diputuskan oleh kedua wakil tersebut wajib diikuti oleh semuanya. Wakil yang dikirim oleh penduduk syam adalah Amr bin Ash sedangkan wakil dari penduduk Iraq adalah Abu Musa Al-Asy’ari. Kedua belah pihak setuju untuk menunda keputusan sampai bula Ramadhan.

Kedua orang tersebut sepakat bahwa nanti mereka akan bertemu di Daumatul Jannah. Setelah terjadi kesepakatan sementara, akhirnya semua orang pulang ke tempatnya masing-masing. Pasukan Khalifah Ali langsung pulang kembali ke Kufah. Itulah akhir dari perang Shiffin yang belum tuntas akhirnya sampai terjadi perundingan berikutnya.