Pengangkatan Ali bin Abu Thalib Sebagai Khalifah

Ketika Khalifah Ustman bin Affan terbunuh, maka orang-orang berlari kecil untuk mendatangi Ali sambil berkata, “Kita harus mengangkat Amir. Ulurkan tanganmu, kami baiat. Ali menjawab, “Urusan ini bukan hak kalian, tetapi hak para pejuang Badar. Siapa yang disetujui oleh para pejuang Badar, maka dialah yang berhak menjadi khalifah.” Kemudian seluruh para pejuang Badar mendatangi Ali dan membai'atnya.

Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Peristiwa pembai'atan Ali sebagai khalifah terjadi pada tahun ke 33 H. Masa kepemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib merupakan masa yang sangat sulit. Dimana berbagai fitnah telah menyebar ke berbagai wilayah, berbagai peperangan dan pemberontakan terjadi. Pemberontakan yang terjadi di zaman Khalifah Ali bin Abu Thalib seperti, perang unta kemudian perang Shiffin. Berbagai pertentangan yang timbul antara jumhur Muslimin dan Mu’awiyah, lalu fitnah kaum khawarij yang berakhir dengan kejahatan mereka yang terburuk yaitu melakukan pembunuhan terhadap Khalifah Ali.

Para ahli sejarah sepakat bahwa Khalifah Ali membenci kaum pemberontak yang membunuh Utsman. Bahkan Khalifah Ali bin Abu Thalib sangat berharap dapat melakukan secepat mungkin untuk dilakukannya qishash terhadap para pembunuh Utsman. Akan tetapi, Khalifah Ali mempunyai pertimbangan lain yaitu sampai segala urusan beres atau sampai khalifah dapat mewujudkan apa yang dinilainya sebagai pendahuluan dharuri dan menjauhkan sebab-sebab timbulnya fitnah. (Al - Bidayah wan-Nihayah, 7/234).

Akan tetapi, sahabat-sahabat lainnya mempunyai pandangan lain. yang lainnya berpendapat agar khalifah segera menangkap dan megeksekusi mereka. Para sahabat yang berbeda tersebut seperti Thalhah dan Zubair.

Akhirnya para sahabat yang menuntut untuk segera dilakukannya qishash berkumpul di Bashrah, mereka adalah Ummul Mu’minin Aisyah, Thalhah, Zubair dan para pembesar sahabat lainnya. Tujuan para sahabat ini berkumpul tak lain adalah untuk mengingatkan masyarakat Bashrah agar menjalin kerjasama dalam menangkap pembunuh Utsman. Mengetahui para sahabat kumpul di Basrah, Khalifah langsung menuju ke sana bersama pasukannya guna mencapai ishlah dan menyatukan pendapat. Diantara kedua kubu tidak ada yang berniat untuk berperang atau menyulut api fitnah. Semuanya berjalan atas ijtihaj masing-masing.

Akhirnya Khalifah Ali mengirimkan utusannya yaitu Al-Qa’qa bin Amr untuk menemui Ummul Mu’minin Aisyah. Utusan tersebut berkata, “Wahai Ibunda, ada maksud apa Ibunda sehingga jauh-jauh datang ke negeri ini?”, Ummul Mu’minin menjawab, “Ishlah diantara manusia.” Kemudian utusan tersebut menemui Thalhah dan Zubair untuk menanyakan hal yang sama dan mendapatkan jawaban yang sama. Akhirnya semuanya sepakat untuk menyerahkan urusannya pada Khalifah dan mendesak supaya ditegakkannya hukum Allah terhadap para pembunuh Utsman.

Setelah semua sepakat, Khalifah pun berpidato dihadapan khalayak dengan terlebih dahulu memanjatjan puji kepada Allah swt atas nikmat perdamaian dan kesepakatan yang telah dicapai. Khalifah pun mengumumkan bahwa besok ia akan kembali pulang.

Syekh Said Ramadhan Al Buthy dalam kitabnya Fiqhus Sirah menjelaskan, bahwa tak lama setelah kesepakatan tersebut dicapai, para gembong pembuat fitnah mengadakan peretemuan. Mereka tidak senang dengan kesepakatan yang dicapai oleh Khalifah. Mereka para pembuat fitnah tersebut adalah Asytar an-Nakha’i, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba, Salim bin Tsa’labah, dan Ghulam ibnul Haitsam. Tak ada dari golongan sahabat yang masuk dalam golong mereka seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir. Para pembuat fitnah ini berkonspirasi untuk mengobarkan peperangan ditengah masyarakat.

Di hari kedua Khalifah berangkat yang kemudian di susul oleh Thalhah dan Zubair. Sedangkan orang-orang pembuat fitnah ini bergerak sebelum fajar. Mereka membawa pasukan yang berjumah sekitar dua ribu orang. Dengan licik mereka mendatangi kerabat mereka lalu menyerbu dengan menggunakan pedang mereka. Akhirnya, orang-orang bangun dari tidur mereka dengan membawa pedang sambil berkata, “Orang-orang Kufah menyerang kita pada malam hari dan berkhianat pada kita.” Mereka mengira bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalifah. Seteah mendengar berita ini Khalifah berkata, “Apa yang terjadi pada masyarakat?” oarang-orang yang berada disekitar Khalifah berteriak bahwa penduduk Bashrah menyerang mereka. Spontan saja kedua belah pihak langsung memakai baju perang mereka sambil membawa senjata lengkap.

Kedua kelompok ini telah di fitnah dan diadu domba untuk maju dalam medan pertempuran tanpa mengetahui hakikat sebenarnya yang terjadi. Akhirnya kedua pasukan bertemu, Khalifah membawa sekita 20.000pasukan sedangkan Ummul Mu’minin Aisyah membawa 30.000 pasukan. Ketika kedua pasukan bertemu, sahabat bertemu dengan sahabat, orang beriman bertemu dengan orang beriman, tapi dalam pertempuran kali ini mereka seakan-akan dipaksa untuk jadi musuh. Akhirnya ketika mereka bertemu, mereka saling menghindar, saling menahan diri dan tak ingin membunuh sahabatnya tersebut.

Imam Baihaqi meriwayatkan, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad ibnul Hasan al-Qadhi, ia meriwayatkan dengan sanadnya dari Harb ibnul Aswad Da’uli.. Ia berkata, “Ketika Khalifah beserta para sahabatnya mendekati Thalhah dan Zubair, dan barisan keduanya pun saling mendekat, keluarlah Khalifah sambil menunggang baghal Rasulullah kemudian berseru, “Panggilkan saya Zubair.” Setelah Zubair dipanggil, ia datang sampai tengkuk kedua tunggangannya bersentuhan. Khalifah berkata, “Wahai Zubair, demi Allah apakah engkau ingat ketika Rasulullah melewatimu, sedangkan kami berada di tempat ini dan itu ? beliau kemudian bertanya, “Wahai Zubair, apakah kamu mencintai Ali ? “lalu kamu menjawab, “Mengapa aku tidak mencintai anak bibiku dan anak pamanku, bahkan segama denganku ? “Nabi saw kemudian bersabda, Wahai Zubair, demi Allah suatu saat nanti engkau pasti akan memeranginya dan mendzaliminya.”

Zubair menjawab, Demi Allah, aku telah lupa akan peristiwa tersebut semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah. Akan tetapi, sekarang aku baru teringat lagi. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu untuk selama-lamanya. Zubair kemudian kembali dengan menunggang kuda membelah pasukannya.

Ketika unta Ummul Mu’minin Aisyah jatuh ke tanah kemudian sekejap dibawa jauh dari medan pertempuran, Khalifah datang kepadanya seraya mengucapkan salam dan menanyakan keadaannya sambil berkata, wahai Ibunda, bagaimana keadaanmu ?” Ummul Mu’minin menjawab, Baik.” Ali berkata, “Semoga Allah mengampunimu. “Selanjutnya orang-orang dan para sahabat datang seraya mengucapkan salam kepadanya dan menanyakan keselamatannya.