Mengenal Tasawuf

Tasawuf bisa berasal dari kata ash-shuffah. Hal ini dinisbatkan pada Ahli Shuffah (serambi) yaitu dimana ada 400 sahabat Muhâjirîn yang fakir dan tidak memiliki tempat tinggal dan sanak keluarga di masa Nabi yang menentap dan beribadah di masjid Nabi, Madinah. Para sahabat yang 400 ini bukannya mereka tidak mempunyai harta sama sekali, ketika berada di Makkah mereka mempunyai harta benda maupun keluarga. Akan tetapi, mereka semua tinggalkan tatkala Hijrah ke Madinah. Mereka lebih memilih menyelamatkan iman mereka daripada harta mereka. Mereka lebih mencintai Nabi Saw dibandingkan dengan yang lainnya.

Siang mereka berpuasa dan malamnya mereka habiskan untuk beribadah kepada Allah Swt. Kemana Nabi Saw pergi mereka pasti ikut dibelakang Nabi Saw. Setiap Nabi Saw shalat di masjid, mereka akan ikut bermkmum di belakang Nabi Saw. Meskipun hampir setiap hari berpuasa, tapi tatkala ada panggilan jihad mereka siap untuk berjihad. Mereka berperang laksana singa yang sedang kelaparan mencari mangsanya.

Tasawuf gambar

Di antara Ahlus Suffah terdapat nama-nama sahabat yang terkenal seperti Abu Hurairah Ra (seorang sahabat yang terkenal dan banyak merawikan hadist), Abu Dzar Al Gifari seorang sahabat yang terkenal pemurah, yang mendermakan kelebihan hartanya yang di makannya tiap-tiap sore, Abdullah bin Ummi Maktum dan lain-lain.

Makan minum mereka selain diberi orang-orang Islam lainnya yang mendermakan hartanya, Nabi sendiri biasa membawa makanan untuk mereka dan beliau makan bersama-sama mereka. Ini suatu kegembiraan yang besar bagi mereka, yakni makan bersama-sama Rasulullah SAW.

Ada juga yang mengartikan kata tasawuf berasal dari kata ash-shaff (barisan) yang seolah hati mereka berada di barisan terdepan dalam kehadiran di hadapan Allah. Namun pendekatan isytiqâqy (derivasi) ash-shûfiy (sufi) pada ketiga kata tersebut, menurut aL-Qusyairy dinilai tidak tepat secara teori analogi harfiah. Sebab jika dari ash-shofa' sangat jauh bentuk subjek (fa'il)-nya menjadi ash-shufiy, jika dari ash-shuffah maka menjadi ash-shafwiy, dan jika dari ash-shaff (barisan), meskipun memiliki kebenaran secara makna. Namun, kata ash-shufiy bukanlah bentuk subjeknya. Bahkan menurutnya, sufisme juga tidak berasal dari akar kata ash-shauf (wol), sebab pakaian tersebut bukan performance asli kaum sufi. Jadi menurut aL-Qusyairy, sebutan ash-shufiy diberikan lebih hanya sebagai gelar (laqab). Namun, menurut Ibn Khaldun, kendati ash-shauf bukan pakaian khusus para mistikus. Namun, karena keidentikan tradisi mereka yang menggunakan pakaian dari wol sebagai ekspresi kezuhudannya, istilah tashawwuf lebih dekat berasal dari akar kata ash-shauf. Meski demikian, acuan paling mendasar etimologis sufisme, sebenarnya lebih berasal dari sikap mistikus yang secara total berusaha memadamkan hasrat duniawi dari kehidupannya dengan menenggelamkan seluruh himmahnya dalam samudera ukhrowi. Lantaran itulah kaum mistikus cukup dikenal dengan sebutan ash-shufiy dan tidak perlu mencari analogi atau turunan akar kata untuk sebutan mereka.

Imam al-Qusyairi dalam al-Risalah-nya mengutip 50 definisi dari ulama Salaf; sementara Imam Abu Nu'aim al-Ishbahani dalam "Ensiklopedia Orang-Orang Suci"-nya Hikayat al-awliya' mengutip sekitar 141 definisi, antara lain:

"Tasawuf adalah bersungguh-sungguh melakukan suluk yaitu perjalanan' menuju malik al muluk `Raja semua raja' (Allah `azza wa jalla)."

"Tasawuf adalah mencari wasilah 'alat yang menyampaikan' ke puncak fadhilah 'keutamaan'."

Definisi paling panjang yang dikutip Abu Nu'aim berasal dari perkataan Imam al-Junaid ra. ketika ditanya orang mengenai makna tasawuf:

"Tasawuf adalah sebuah istilah yang menghimpun sepuluh makna:

  1. tidak terikat dengan semua yang ada di dunia sehingga tidak berlomba- lomba mengerjarnya.
  2. Selalu bersandar kepada Allah `azza wa jalla,.
  3. Gemar melakukan ibadah ketika sehat.
  4. Sabar kehilangan dunia (harta).
  5. Cermat dan berhati-hati membedakan yang hak dan yang batil.
  6. Sibuk dengan Allah dan tidak sibuk dengan yang lain.
  7. Melazimkan dzikir khafi (dzikir hati).
  8. Merealisasikan rasa ikhlas ketika muncul godaan.
  9. Tetap yakin ketika muncul keraguan dan
  10. Teguh kepada Allah dalam semua keadaan. Jika semua ini berhimpun dalam diri seseorang, maka ia layak menyandang istilah ini; dan jika tidak, maka ia adalah pendusta. [Hilayat al-Awliya].

"Tasawuf masuk dalam jalur fiqih, karena ia pada hakikatnya adalah fiqih batin (rohani), sebagaimana fiqih itu sendiri adalah hukum-hukum yang berkenaan dengan perilaku lahir."

Untuk itu, Tasawuf harus selalu bersanding dengan fikih, bahkan seorang sufi yang tidak mengerti fikih tidak bisa dikatakan sebagai seorang sufi sejati.

Apa pun definisi yang dikemukakan para ulama mengenai tasawuf, satu hal pasti adalah bahwa tasawuf merupakan sisi rohani Islam yang sangat fundamental dan esensial; bahkan ia merupakan inti ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.

Pernyataan Imam Muhammad Zaki Ibrahim barangkali sudah cukup sebagai penjelasan terakhir: "Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai definisi tasawuf, semua definisi yang ada mengarah kepada satu titik yang sama, yaitu taqwa dan tazkiyah. Tasawuf adalah hijrah menuju Allah SWT, dan pada hakikatnya semua definisi yang ada bersifat saling melengkapi." (Abjadiyyah al-Tashawwuf al-Islami, atau Tasawuf Salafi, hal 7)

Tidak satu definisi-pun yang mampu menggambarkan secara utuh apa yang disebut dengan tasawuf. Demikian pula, tidak ada satu penjelasan pun yang mampu menggambarkan apa yang disebut denga ihsan 'beribadah seolah-olah melihat Allah', karena hal itu menyangkut soal "rasa dan pengalaman" bukan "penalaran atau pemikiran". Pemahaman yang utuh mengenai tasawuf dan sekaligus ihsan hanya muncul setelah seseorang "mengalami" dan tidak sekadar "membaca" definisi-definisi yang dikemukakan orang.

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa sumbe taswuf itu ada tiga, yaitu

  1. Tasawuf indal akhlaq wal adab

Tasawuf ini bisa kita terapkan sedini mungkin untuk anak-anak kita. Misalnya, makan menggunakan tangan kanan, melangkah masuk ke kamar mandi mengedepankan kaki kiri, keluar dari kamar mandi mengedepankan kaki kanan ini tasawuf akhlak wal adab. Karena sumbernya tasawuf adalah min akhlaq wal adab, dari pekerti dan tatakrama.

  1. Tasawuf indal Fuqaha

Bagimana fiqih ini tidak berhenti hanya secara fiqhiah saja. Misalnya orang kalau sudah menjalakan wudhu mau sholat, setelah dipakai shalat wudhunya kemana? Selesai kan?! Nah orang tasawuf tidak mau. Tasawuf menuntut sejauhmana anda membawa wudhu ini terlepas daripada kefardhuan yang sudah anda laksanakan. Apakah anda wudhu didalam shalat hanya terikat oleh syarat-syarat atau hukum-hukum syari’at. Anda dituntut oleh ulama tasawuf agar wudhumu bisa mewudhui bathiniah Anda atau tidak. Dan seterusnya. Disinilah hebatnya ilmu tasawuf.

  1. Tasawuf inda ahlil Ma’rifat.

Ahli ma’rifat ini adalah orang yang dekat dengan Allah. Salah satu tujuan dari tasawuf adalah menegnal serta mendekatkan diri pada Allah swt. 

 

* disarikan dari berbagai sumber