Masa Kecil Ali bin Abu Thalib Sampai Masa Hijrah

Ali bin Abu Thalib merupakan anak dari pamannya Nabi saw yaitu Abu Thalib. Sejak kecil, Ali tinggal bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Ali merupakan salah satu dari orang yang pertama kali masuk Islam. Sehingga di masa-masa kecil sampai dewasa ia habiskan untuk belajar pada Islam pada Nabi saw. Maka, tak heran jika dikemudian hari Ali tumbuh sebagai pemuda yang pintar serta bijaksana. Bahkan dikemudian hari Ali dinikahkan oleh Nabi saw kepada putrinya yang sangat dicintai yaitu Fathimah Az-Zahra. Jadi, kedudukan Ali ini sangat istimewa di mata Nabi saw yaitu sepupu yang ikut bersama Nabi saw sejak kecil juga menantu Nabi saw.

140px Alī

Nasab dari Ali adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib (namanya Syaibatul Hamd) bin Hasyim bin Abdi Manaf (namanya al-Mughirah) bin Qushayy (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan. Sedangkan ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Jadi ayah dan ibu Ali merupakan sama-sama keturunan Bani Hasyim. Sejak dulu keluarga Hasyim memang terkenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang dan pemegang kepemimpinan masyarakat.

Fathinah ibu Ali merupakan wanita yang juga beriman pada Nabi saw. Ketika Nabi saw masih kecil ia bersama suaminya (Abu Thalib) yang membesarkan Nabi saw, mendidiknya, menanggung segala keperluan Nabi saw seperti anaknya sendiri. Hal itu ia lakukan setelah kedua orang tua dan kakeknya Nabi yaitu Abdullah dan Aminah serta Abdul Muthalib meninggal dunia. Bahkan tatkala Fathimah bin Asad meninggal, Nabi saw sendirilah yang mengkafaninya dengan memakaikan baju qamisnya pada jasad Fathimah binti Asad. Tak hanya itu, bahkan Nabi saw sendiri yang meletakkan jasadnya ke liang kubur dan Nabi saw juga menangis tatkala Fathimah bin Asad meninggal. Tangisan Nabi saw seperti tangisan seorang anak yang ditinggal oleh ibunya. Untuk itu, Nabi saw menamakan putri bungsunya yang sangat ia cintai dengan nama Fathimah. Sebagai bentuk hormat beliau saw pada bibinya yaitu Fathimah binti Asad.

Ali di lahirkan 10 tahun sebelum masa kenabian. Nabi saw menjadikan Ali sebagai anak asuhnya tak lain sebagai bentuk balas jasa atas segala kebaikan yang telah diberikan oleh paman dan bibinya tersebut. Oleh karena itu, Nabi saw sangat menyayangi Ali seperti anaknya sendiri. Begitupun dengan Khadijah istri Nabi saw juga sangat menyayangi Ali.Ali memiliki beberapa saudara laki-laki yaitu : Thalib, Aqil dan Ja’far. Sedangkan saudara perempuannya adalah : Ummu Hani’ dan Jumanah.

Dalam ath-Thabaqat al-Kubra dijelaskan tentang ciri-ciri fisik Ali, yaitu berkulit sawo matang, bola matanya besar dan kemerah-merahan tidak tinggi berjanggut lebat, dada dan pundaknya berwarna putih. Berwajah tampan, memiliki gigi yang rapi serta ringan langkahnya.

Ketika seluruh sahabat hijrah ke Madinah, Tak tersisa seorangpun di Makkah kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Bakar dan Ali beserta orang-orang tua yang lemah dan wanita yang tidak dapat hijrah, juga muslimin yang berada dalam kekuasaan orang kafir dan dalam siksaan mereka. Tidak lama kemudian izin untuk hijrah telah datang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah bersama Sayyidina Abu Bakar dan meninggalkan keluarganya. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hijrah, maka Ali yang disuruh untuk menggantikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tidur ditempat tidurnya. Ali juga sadar bahwa orang-orang kafir Quraisy hendak membunuh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Reseiko atas kesediaan Ali tidur menggantikan Nabi saw adalah nyawa. Tapi, Ali bersedia dan ikhlas atas apapun yang terjadi. Namun, atas kehendak Allah swt Ali pun selamat dan orang-orang kafir Quraisy yang hendak membunuh Nabi pun terpedaya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan Sayyidatuna Fatimah, Ummu Kultsum, juga istri beliau Saudah, sedangkan Ali bin Abi Thalib setelah tiga hari menyusul Rasulullah hijrah ke Madinah. Ini adalah sebuah kepercayaan yang sangat kuat dan tinggi dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas putri-putri dan istri beliau, yang mana mereka adalah keluarga dan tumpuan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka tetap sabar dan bertahan serta menunggu izin dari Rasulullah, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah dan Aba Rafi’ untuk menjemput putri-putri dan istri beliau Saudah, beserta keluarga Sayyiduna Abu Bakar.