Kisah Sayyidatuna Fathimah 7 - Kamar Rumah Sayyidatuna Fathimah

Kamar Sayyidina Ali dan sayyidatuna fatimah agak jauh dari kamar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam satu sisi Rasulullah sangat senang jika kamar Fatimah dekat degannya, karena Rasulullah sangat senang keluar masuk rumah Fatimah. Rasulullah setiap kali menikah memperluas kamarnya, sedang kamar seseorang yang paling dekat dengan kamar-kamar Rasullah adalah kamar sahabat anshar, yaitu Haritsa bin Nu’man.

199172 m

Suatu ketika Sayyidatuna Fatimah mendatangi ayahnya dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah engkau bicara pada Haritsa dan meminta darinya agar membagikan pada kita sebagian dari kamarnya?”.

Rasulullah menjawab “Wahai putriku, demi Allah saya sangat malu untuk melakukannya.”

Allahu Akbar..

Kita lihat Rasulullah malu dengan para sahabat yang selalu siap setiap saat berkorban bukan hanya harta atau rumah mereka, akan tetapi segala jiwa raga bahkan ruh mereka demi Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah berkata “Saya malu wahai putriku karena ia telah membagi sebagian rumahnya untukku.”

Maka Nabipun tidak membicarakan hal tersebut pada Haritsa.

Ketika sampai kabar tersebut kepada Haritsa bin Nu’man, maka segera Haritsa bergegas dan berlari menuju rumah Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rosul Allah, sesungguhnya telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau ingin memindah putrimu Fathimah dekat denganmu dan rumahku adalah paling dekatnya rumah di antara Bani Najjar denganmu. Wahai Rosul Allah, ketahuilah.. Sesungguhnya aku serta hartaku milik Allah dan Rosul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam..!”

(Yaa Allaaah….!!! Wahai para pembaca, coba kita cerna baik-baik kata-kata ini yang mengandung sebuah arti cinta yang sulit di temukan. Sebuah makna cinta yang tidak dapat di mengerti oleh bumi bahkan kebanyakan manusia tidak mendapatkan makna tersebut…! Akan tetapi, kita lihat bagaimana Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan sebuah arti dan makna cinta yang sangat menakjubkan dan ajaib…!)

Haritsa berkata,”Wahai Rosul Allah.. Demi Allah, harta yang kau ambil dariku lebih aku cintai daripada yang kau tinggalkan padaku. Jika engkau ambil dariku sesuatu, Demi Allah itu lebih aku senangi & cintai…!”

Melihat kuatnya cinta yang ada di hati Haritsa, maka Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang engkau katakan adalah benar…!”

Maka Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam gembira melihat ketulusan cinta yang ada pada Haritsa kepada Allah dan Rosul-Nya seraya mendoakan dengan doa yang sangat banyak.

Haritsa pun memberikan sebagian kamarnya dan Rosul Allah menjadikannya tempat tinggal putrinya, Fathimah dan suaminya, ‘Ali bin Abi Tholib. Yang mana kamar Sayyidatuna Fathimah kira-kira berukuran 2,5×2 meter persegi, semuanya tidak sampai 5 meter sedang tingginya kira-kira mendekati 2meter. Sampai-sampai sebagian Tabi’in berkata, “Aku masuk kamar Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ku angkat tanganku maka dapatku sentuh atap rumah Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beginilah bentuk rumah Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah Sayyidatuna Fathimah rumah yang kecil ini yang menjadi tempat RosulAllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar masuk dan tempat bermain-main dengan cucunya. Padahal jika Rasulullah mau, maka gunung uhud pun bisa di rubah menjadi emas. Kunci bumi dan langit berada di tangan Rasulullah saw. lihatlah bagaimana pemimpin para wanita di surga putri dari Nabi mulia yang hidup di dalam rumah yang sangat sederhana. Berbanding terbalik dengan zaman sekarang yang menginginkan tinggal di rumah-rumah mewah.. subhanallah