Kisah Sayyidatuna Fathimah 5 - Ahlul Kisa

Kebiasaan Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ingin berpergian akhir rumah yang dituju adalah rumah Fatimah. Mengucapkan salam perpisahan kepada isteri-isterinya, kemudian mendatangi rumah Fatimah dan duduk di dalamnya. Kemudian melakukan perjalanannya.

ya fatima zahra s a 6 ABNS

Kebiasaan para sahabat jika melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Fatimah, mereka menunggu ingin melihat keadaan Rasulullah ketika keluar dari rumah tersebut. Mereka semua tahu, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Fatimah, selalu keluar dalam keadaan yang menakjubkan. Setiap kali masuk ke rumah Fatimah, Rasulullah selalu memiliki gerak gerik yang sulit di gambarkan karena kegembiraannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu keluar dalam wajah yang penuh kegembiraan dan cahaya, karena rumah tersebut adalah rumah yang dipenuhi rasa cinta, rumah yang penuh kasih sayang, rumah ketenangan, rumah yang menjadi tempat bagi Nabi untuk menenangkan dirinya, terlebih-lebih ketika lahir Hasan dan Husain.

Selang waktu setelah berlangsungnya pernikahan yang harmonis tesebut yang kira-kira mencapai setahun tepatnya di pertengahan Romadhon di tahun ke-3 setelah hijrah, Sayyidatuna Fathimah mendapat anugerah bayi laki-laki yang mana wajah sang bayi adalah paling miripnya dengan wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah ibunya.

Kabarpun sampai kepada Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dengan segera Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi, menggendong sang bayi. Kemudian, Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan lafadz Adzan di telinga kanan dan Iqomat di telinga kiri. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap seluruh tubuh sang bayi dan mendoakannya seraya berkata kepada Sayyidina ‘Ali,
“Akan kau beri nama siapa wahai ‘Ali…?”

Sayyidina ‘Ali menjawab, “Ku beri nama Harb (si jago perang)”

Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bukan, tapi namanya Hasan, wahai ‘Ali…”

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya nama Hasan.

Tidaklah berlalu setahun kecuali telah dilahirkan Husain. Yang mana kedua bayi tersebut adalah jantung hati Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penggembiranya.

Sayyidatuna Fathimah pun semakin gembira dan bahagia karena dengan berkah hadirnya dua bayi tersebut, semakin sering mengundang kehadiran dan semakin membuat gembira serta bahagia Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Terkadang Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk ke rumah Fathimah dan berebahan, Sayyidina Hasan menaiki dada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sayyidina Husain menaiki punggung Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua bayi tersebut bermain-main di tubuh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi pun juga bermain dengan sang jantung hati. Bahkan terkadang ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menggendongnya, masuk Anas bin Malik (pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menemukan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan menggunakan kedua lutut dan kedua tangannya sedang Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain berada di punggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat hal ini Anas berkata, “Wahai Hasan dan Husain, alangkah agungnya kendaraan kalian…”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sebaik-baik penunggang adalah mereka berdua..”

Suatu hari masuk Sayyidina Anas ke rumah Fathimah yang mana Sayyidina Anas pada waktu itu masih kecil. Ketika masuk, melihat Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sayyidina ‘Ali sedang tidur sedangkan Sayyidatuna Fathimah membersihkan rumah, Sayyidina Hasan dan Husain sedang bermain-main.

Kemudian Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Wahai Anas, aku dan ini (mengisyaratkan kepada Sayyidatuna Fathimah) dan orang yang tidur ini (Sayyidina ‘Ali) serta dua anak ini (Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain) nanti di akhirat berada di tempat yang sama.”

Mereka inilah yang di sebut dengan”Ahlul Kisa’ ” yang telah di selimuti oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surban (kisa’) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummu Salamah (istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) menceritakan bahwa ketika Nabi berada di kamarnya berkata, “Panggil Fathimah dan ‘Ali juga beserta kedua anaknya..!”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memangku Sayyidina Hasan dan Husain, lalu menyuruh Sayyidatuna Fathimah di sebelah kanan dan Sayyidina ‘Ali di sebelah kiri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan surban atau Kisa’ Beliau untuk menyelimuti mereka semua dan seraya berdoa,

“Yaa Allah, sesungguhnya mereka adalah keluargaku. Yaa Allah, bersihkanlah kotoran mereka dan sucikan mereka dengan sesuci-sucinya. ”

Dalam riwayat yang lain, Malaikat Jibril turun dan memasukkan kepalanya kedalam selendang bersama mereka, melihat apa yang di lakukan Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya, Ummu Salamah berkata, “Wahai Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bukankah aku juga keluargamu..?”

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Sesungguhnya engkau di dalam kebaikan, wahai Ummi Salamah…!”

Sedangkan mereka mendapat kekhususan dengan selimut (kisa’) ini. Oleh karena itu, mereka mendapat julukan “Ahlul Kisa’ ” merekalah pemilik kemulyaan dan martabat yang tinggi. Dan, merekalah yang akan berada dalam satu tempat yang sama nantinya menjadi teman duduk kekasih Allah yang mulia ini. Walaupun dalam kedudukan yang mulia, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mendidik dan memperhatikan Sayyidatuna Fathimah agar selalu meminta kedudukan dan derajat yang tinggi, selalu memberikan pendidikan-pendidikan yang mengangkatnya pada derajat yang tinggi.
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari kepergian atau peperangan, seperti biasa jika datang, pertama tempat yang dituju setelah masjid adalah rumah putrinya, Fatimah. Kemudian setelah itu pergi kerumah isteri-isteri beliau. Rumah Fatimah adalah yang terakhir yang beliau tuju jika beliau mau bepergian, dan rumah pertama yang dimasuki jika datang dari berpergian.

Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari berpergian, beliau masuk ke masjid, sholat, kemudian langsung kerumah Fatimah. Ketika masuk ke rumah Fatimah, ia menangis melihat keadaan ayahnya yang tampak letih dan lelah, serta tubuhnya dipenuhi debu bekas perjalanan jauh. Maka Fatimah dalam keadaan menangis bergegas membersihkan debu di wajah ayahnya. Fatimah menangis, menangis, dan terus menangis.

Melihat hal tersebut, Rasulullah berkata, ”Jangan kau bersedih wahai putriku, jangan bersedih, karena Allah akan menampakkan agama ini.”

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap tetesan air mata, dan meredakan tangisan putrinya.

Ini semua karena cintanya Sayyidatuna Fatimah pada ayahnya, tidak mampu melihat ayahnya dalam keadaan ini. Sayyidatuna Fatimah tahu siapakah ayahnya. Akan tetapi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan usahanya, kelapangannya, serta kemampuannya kecuali dipergunakan di jalan Allah dan demi kejayaan agama ini.