Kisah Sayyidatuna Fathimah 4 - Akhlak Sayyidatuna Fathimah

Suatu hari Sakit Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain, yang mana sakit mereka berdua semakin berat. Melihat keadaan kedua anaknya yang begitu menyedihkan maka Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fathimah nazar, jika di beri sembuhan kedua anaknya, untuk berpuasa tiga hari sebagai rasa syukur mereka kepada Allah. tak lama Mereka berduapun mendapat kesembuhan dari Allah. maka Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fathimah melaksanakan nadzar mereka puasa tiga hari.

18

Sayyidina Ali, keluar mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk berbuka puasa ketika tenggelam matahari nanti, karena di rumah tidak ada makanan apapun. Mendekati waktu tenggelamnya matahari, Sayyidina Ali mendatangi salah satu rumah Yahudi untuk mengambil hutang Gandum, kira-kira dengan timbangan sekarang setara dengan 8Kg, maka Sayyidatuna Fathimah pun menggiling dan mengolahnya untuk di jadikan roti sebagai makanan berbuka puasa. Ketika menjelang waktu berbuka puasa, datang seorang miskin mengetuk pintu. Sayyidina Ali pun masuk ke dapur dan menanyakan, “Wahai Fathimah, apa yang akan kita lakukan kepada seorang miskin di depan pintu..?”
Sayyidatuna Fathimah menjawab,”Berikan saja makanan kita kepadanya..!” Mereka pun memberikan satu-satunya makanan yang siap di hidangkan sehingga hari ini mereka hanya berbuka dengan tegukan air putih.

Subhanallaah… !!

Kita lihat, bagaimana mereka sampai pada pendidikan yang agung ini, mereka mendahulukan kepentingan orang lain walaupun mereka harus menderita.

Di hari kedua puasa mereka, ketika ingin berbuka ternyata datang anak yatim mengetuk pintu. Merekapun memberikan jatah buka mereka kepada Yatim.

Hari ketiga, datang seorang tawanan perang yang kelaparan, merekapun memberikan makanan mereka. Yang mana pesan Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kepada mereka untuk menjalin keluarga yang indah dan baik.

Di hari ketiga ini, keadaan mereka sangat memperihatinkan, sampai kosong atau kurus perut Fathimah sampai di katakan bahwa perutnya menempel pada punggungnya dari sangatnya lapar yang di tahan, nampak wajahnya pucat dan badannya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain keluar rumah dalam keadaan sempoyongan karena terlalu lapar.
Pada saat itu Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam masjid, ketika melihat Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain berjalan dengan sempoyongan sampai salah satu dari mereka terjatuh, kemudian bangun lagi. Ini karena sangatnya lapar. Mengetahui hal ini Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tersentuh, maka dengan segera Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari masjid dan membawa makanan ke rumah Fathimah.

Bahkan Allah menurunkan ayat dalam memuji rumah tangga ini. Allaahu Akbar…!!! Alangkah agungnya…!! Sehingga Allah memujinya dan mengagungkannya .

Dalam al-Qur’an Allah berfirman, (yang maksudnya):

”Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang di sukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang di tawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridloan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut (adzab) Tuhankami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (al-Insan: 7-10)

Inilah sifat mereka, lalu apa yang mereka dapat dari Tuhan mereka dan dengan apa Tuhan mereka membalasnya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman sebagai balasan bagi mereka (yang maksudnya) “Maka Tuhan mereka memelihara mereka dari kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati.” (al-Insan: 11)

Sampai pada akhir ayat yang masyhur ini di Surat al-Insan. Yang mana Allah puji mereka, serta Allah memuja sebab sifat mereka yang lebih mementingkan orang lain yang mencapai derajat yang sangat agung dan tinggi dalam sifat Itsar (mementingkan kepentingan orang lain atas kepentingannya sendiri) yang mana hal ini menembus kedudukan yang tinggi dalam bermuamalah kepada Tuhannya.

Akan tetapi, jika kita tahu bahwa ini adalah hasil didikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Maka kita tidak heran, sebagaimana di katakan: “Jika telah di ketahui sebabnya maka hilanglah rasa heran.” Karena yang mendidik mereka adalah didikan Tuhan nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku di didik Tuhan ku, dengan sebaik-baik didikan.” maka tidak heran jika Fathimah paling serupanya manusia dari segi perangai sifat dan tingkah lakunya dengan Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidak heran jika Fathimah memiliki akhlaq yang luhur ini.

Suatu hari Fathimah dalam keadaan lapar sedang ia hanya memiliki sepotong roti. Ketika ia ingin memakannya teringat pada sang ayah. Maka dengan segera Sayyidatuna Fathimah keluar menuju ayahnya dan memberikan kepada Sang Nabi roti tersebut. Nabipun gembira seraya berkata, “Wahai Fathimah, ketahuilah bahwa dalam tiga hari, roti inilah makanan yang pertama masuk ke mulut ayahmu. Ini adalah makanan yang pertama aku rasakan sejak tiga hari yang lalu.”

Subhanallaaah.. !! Kita lihat, bagaimana Fathimah merasakan kepedihan sang ayah juga kelaparannya, mampu merasakan kepedihan jika sang ayah merasa pedih.

Suatu hari keluar Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di sertai oleh Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar yang mana mereka semua keluar dalam keadaan lapar. Mereka pun mendapati seorang Anshor yang bernama Abu Taihan yang menjamu mereka dan menghidangkan daging dan kurma, setelah mereka makan, Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sedikit dari sisa makanan tersebut dan membungkusnya seraya berkata: “Ambillah ini dan kirimkan ke rumah Fathimah, karena aku bersumpah Demi Dzat Yang Kehidupanku di Tangan-Nya, sesungguhnya putriku Fathimah sudah tiga hari tidak kemasukan sedikitpun makanan masuk ke perutnya.”

Kita lihat, ini adalah pemimpin para wanita seluruh alam. Pemimpin wanita di Syurga. Jika para wanita mendapat kemulyaan masuk Syurga, ketahuilah bahwa pemimpin anda adalah Sayyidatuna Fathimah. Dan ia juga pemimpin dan panutan para wanita di dunia. Sebagaimana telah di sabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemimpin dan panutan para wanita yang sangat mulia ini, berlalu tiga hari sedang perutnya tidak kemasukan sedikitpun makanan, lebih mementingkan ayahnya, lebih mementingkan anak-anak Yatim dan miskin, lebih mementingkan tawanan, lalu kemana kita dari akhlaq yang mulia ini..?!! Kemana kita dari sifat Sidiq dalam menjalankan hak-hak Allah serta hak-hak saudara-saudara sesama muslim..?

Suatu hari Sakit Sayyidatuna Fathimah. Maka ketika Rosulullah keluar dari masjid bersama para sahabatnya, datang kabar yang mengatakan: “Tidakkah kau menjenguk putrimu yang sedang sakit..?”

Maka Rosulullah Saw pun dengan segera mendatangi rumah Fathimah dan masuk.

Ketika melihat sang ayah datang, Fathimah bangun mencium kening sang ayah dan Rosulullah mencium kening sang putri tercinta, seraya berkata,”Sakit apa yang kau rasakan wahai Putriku?”

Fathimah mengadukan rasa sakit yang dideritanya, juga sakit pada punggungnya. Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menanamkan sifat sabar dan mengingatkan tentang kehidupan di akherat serta keagungan juga balasan atau pahala yang Allah telah persiapkan baginya bahwa dia adalah pemimpin dan panutan wanita di seluruh alam.
Seperti biasanya, para Sahabat menunggu kumandang Adzan untuk menunaikan Sholat.

Suatu hari, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat menunggu kumandang adzan Sayyidina Bilal. Ternyata Bilal pada hari ini, datang terlambat. Apakah yang terjadi..?

Ketika Bilal masuk ke Masjid, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerukan kepada Bilal: “Wahai Bilal, perkara apa yang telah mengakhirkanmu. .?”

Bilal menjawab, “Wahai Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku melewati rumah Fathimah dan aku temukan dua anak kecil menangis sedangkan Fathimah sedang menggiling gandum. Maka ku katakan, ‘Wahai Putri Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam izinkan aku menenangkan anak-anakmu atau aku membantumu dalam menggiling gandum..?’ ”
Fathimah berkata, “Masalah anak, aku lebih rahmat pada mereka..!”

Maka Fathimahpun menenangkan kedua bayi itu dan Sayyidina Bilal menggilingkan gandum tersebut dan membantu Fathimah.

Oleh karena itu, Sayyidina Bilal terlambat.

Maka gembiralah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas apa yang telah di lakukan oleh Bilal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Bilal, ”Mudah-mudahan Allah merahmati mu sebagaimana kau merahmati Fathimah.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat senang.

Sayyidina Bilal mencintai Hasan dan Husain bahkan setiap kali bertemu mereka berdua, di ciuminya karena rasa cinta pada Kakeknya, Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu hari Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati rumah Fathimah seperti biasanya dan menemukan Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fathimah sedang bekerja dan menggiling gandum. Melihat hal tersebut, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Siapa di antara kalian yang telah terasa letih dan capek..?”
Sayyidina Ali menjawab, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya Fathimah telah merasa letih.” Maka Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil gilingan gandum tersebut dan menggiling gandum tersebut.

Kita lihat, alangkah indahnya jalinan cinta ini. Alangkah harmonisnya keseharian mereka.
Jikalau seseorang mau membayangkan merasa hidup di tengah-tengah rumah tangga mereka, di tengah-tengah senyuman mereka, di tengah-tengah jalinan cinta mereka, di tengah-tengah keharmonisan mereka, sungguh kehidupan yang penuh keajaiban. Kehidupan yang menakjubkan yang saling menahan derita dengan penuh keimanan yang sempurna dan penuh kebahagian, yang mana mereka telah Allah Subahanahu wa Ta’ala padukan dalam satu hati. Sungguh mereka adalah jalinan kekasih yang telah di pilih dan di tentukan serta di istimewakan untuk bersatu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.