Kisah Sayyidatuna Fathimah 3 - Hari-Hari Sayyidatuna Fathimah

Suatu hari seperti biasanya, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu keluar masuk ke rumah Fathimah tapi kali ini, Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan keganjalan di rumah Fathimah. Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu bahwa telah terjadi selisih paham antara Fathimah dengan suaminya. Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat senang mendamaikan mereka berdua. Maka Nabipun memanggil mereka berdua seraya menarik tangan Sayyidina ‘Ali dan meletakkannya di perut Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil tangan Fathimah untuk di letakkan di perut Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menahan tangan mereka berdua sampai hilang pertikaian mereka dan kembali damai.

12002232 446870098834216 8038072793177843178 n

Perselesihan faham seperti ini adalah hal yang wajar terjadi pada manusia, akan tetapi selagi rasa cinta dan menghormati masih ada maka perselisihan tersebut pasti akan cepat reda, terlebih lagi jika timbul perselisihan yang terjadi di lingkupan rumah tangga yang penuh di selimuti rasa Taqwa dan ketaatan.

Suatu hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar bahwa telah terjadi selisih faham antara suami istri yang mulia ini. Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segera bergegas dengan cepatnya menuju rumah Sayyidatuna Fathimah dengan wajah kerisauan dan kesumpekan. Para sahabat heran melihat atas apa yang terjadi sehingga membuat bekas di wajah Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun masuk ke rumah mereka berdua, berdiam lama di rumah Fathimah. Para sahabat pun menunggu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perasaan risau. Tak lama kemudian, Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah Fathimah dengan wajah yang berseri-seri dan nampak guratan kebahagian di wajah Sang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat hal tersebut, sebagian sahabat bertanya atas keadaan yang mengherankan tersebut, masuk dengan perasaan gundah dan risau kemudian keluar dengan wajah yang sangat berseri-seri.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bagaimana aku tidak gembira, karena aku telah mendamaikan antara dua orang yang paling aku cintai.”

Sekali waktu Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Fathimah dan melihat ada perubahan di wajah sang putri tercinta. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ”Wahai Fathimah, mana suamimu…?”

Fathimah menjawab, “Aku tak tahu..”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah telah terjadi sesuatu di antara kalian berdua….?”
Fathimah menjawab, “Wahai ayah, ‘Ali telah berlaku begini dan begini..!” Sayyidatuna Fathimah terus mengadu.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari Sayyidina ‘Ali dan akhirnya menemukan di masjid dalam keadaan tidur. Nampaknya, Sayyidina ‘Ali keluar dari rumah untuk menjauhi pertikaian dengan Sayyidatuna Fathimah, meredakan masalah kemudian kembali. Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemukan Sayyidina ‘Ali sedang tidur dan tubuhnya di penuhi debu karena hembusan angin, maka Rosul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerak-gerak kan Sayyidina ‘Ali dengan kakinya dan berkata, “Bangun..! Bangun…! Wahai Aba Turob (bapaknya debu). Bangun wahai Aba Turob!”

Maka Sayyidina ‘Ali bangun dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandeng tangan Sayyidina ‘Ali, membawanya kembali ke rumah Sayyidatuna Fathimah lalu mendamaikan mereka berdua, Sayyidina’Ali berkata, “Demi Allah setelah hari ini aku tidak akan membuatmu marah selamanya, Wahai Fathimah…”

Beginilah kehidupan rumah tangga mereka berdua Sayyidina ‘Ali berlemah lembut dengan Sayyidatuna Fathimah dan begitu halnya dengan Sayyidatuna Fathimah kepada sang suami. Sampai-sampai suatu hari ketika melihat Sayyidatuna Fathimah memakai siwak sebelum sholat, Sayyidina ‘Ali mencandai dengan senyuman dan melantunkan syair,

حظيتَ يا عودَ الأراكِ بثَغرها *** أما خفتِ يا عودَ الأراكِ أراكَ

لو كنتَ من أهلِ القتالِ قَتَلتُك *** ما فـازَ مِنِّـي يا سِواكُ سِواكَ

“Beruntung sekali engkau wahai kayu siwak, telah menyentuh gusinya..
Apakah kau tidak takut wahai siwak, karena aku telah melihatmu…

Kalau sampai engkau mungkin untuk dibunuh, pasti ku bunuh engkau….
Ketahuilah wahai siwak, tidak ada yang selamat dari aku selain engkau….”
Beginilah keseharian rumah tangga Sayyidina ‘Ali dalam berbagi kasih dengan istri tercinta.