Kisah Sayyidatuna Fathimah 2 - Kelahiran Sayyidatuna Fathimah

Al Alamah Al Arif Billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim Bin Hafidz Bin Syekh Abu Bakar yang merupakan seorang ulama besar juga Mudir Am Ma’had Darul Musthafa Tarim, Hadhramaut Yaman, berkata, ”Sayyidatuna Fathimah dilahirkan di rumah yang agung di Makkah rumah al-Amiin, ash-Shaadiq. Ibunya, Khadijah binti Khuwailid, wanita yang agung derajatnya dan mulia budi pekertinya. Dia adalah pemimpin wanita Makkah dalam segi kemuliaan, kewibawaan, serta kehormatan, sedangkan ayahnya siapakah dia? Dia adalah seorang yang dikenal di kalangan kaum Quraisy ash-Shaadiq, al-amiin, dan pemuda paling pintar, yang paling utama dari segala segi. Siapa yang melihat wajahnya akan terpaku atas kehaibaannya, siapa yang bergaul dengannya pasti mencintainya. Cahaya kebenaran dan rahmat selalu terpancar dari raut wajahnya.

Fathimah Binti Muhammad

Saudari Sayyidatuna Fathimah, 3 orang : Sayyidatuna Zainab, Sayyidatuna Ruqayyah, Sayyidatuna Ummu Kultsum. Sayyidatuna Fathimah anak terahir dari Sayyidatuna Khadijah.

Sayyidatuna Fathimah dilahirkan 5 tahun sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di lahirkan di sebuah peristiwa yang agung peristiwa yang bersejarah yang tercatat dalam hati setiap muslim.

Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin agar manusia tidak melupakan kelahiran bayi yang mulia ini sehingga di lahirkan di hari yang mulia. Karena Sayyidatuna Fathimah di lahirkan di hari di perbaruinya Ka’bah Baitullah. Karena itu di sini ada rahasia yang agung, Allah menjadikan kelahiran Sayyidatuna Fathimah di hari diperbaruinya “al-Bait/Ka’bah” karena Fathimah adalah Ummu Ahlil Bait.

Baitullah dibangun bersamaan dengan kelahiran Ummu Ahlil Bait yaitu Fathimah binti Muhammad. Karena akan keluar darinya keturunan dan keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari ini. Akan tampak jelas Baitullah dan begitu juga telah tampak atau lahir wanita yang akan membawa Ahlul-Baitnya Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wajah Rasulullah sangat gembira dan berseri-seri bagai rembulan mendengar kelahiran Fathimah walaupun beliau adalah anak perempuan ke-empat. Di mana orang-orang dulu membenci anak perempuan bahkan sebagian dari mereka apabila lahir anak perempuan wajah mereka merah karena marah, benci, dan malu. Bahkan mereka menyendiri malu menemui orang. Sebagian besar mereka mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di gelapnya zaman jahiliyah mendapat anugrah anak perempuan.

Di gelapnya zaman jahiliyah yang menjadikan wanita bagaikan binatang dan budak hawa nafsu, Rasulullah dikaruniai seorang anak perempuan yang mana akan menjadi Qiblat dan Mahkota bagi para wanita.

“Siapa saja wanita yang tidak berqiblatkan Fathimah dan bermahkotakan Fathimah, maka apa yang terjadi di zaman jahiliyah akan terulang. Wanita akan hina dan jadikan budak hawa nafsu.”

Bergembiralah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lahirnya sang buah hati. dan berkata kepada Sayyidatuna Khadijah, : “Sesungguhnya dia adalah anak yang cantik laksana angin sepoi-sepoi yang indah dan penuh barokah.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendongnya dan menciumnya maka semakin tampaklah kegembiraan Sayyidatuna Khadijah karena Fathimah adalah manusia paling mirip dengan ayahnya. Kemiripan tersebut sebagai penyebab Sayyidatuna Fathimah mendapatkan cinta yang berlebihan dan perhatian khusus.

Rumah tempat dilahirkannya Sayyidatuna Fathimah adalah rumah yang diliputi kemuliaan dan kehormatan yang berasaskan budi pekerti dan ahklaq yang luhur. Di tempat yang luhur dan yang penuh cahaya tumbuhlah sang bunga mawar yang elok nan menawan, yang menjadi harapan setiap wanita.

Rumah tempat dilahirkan Fathimah, adalah rumah tempat turunnya wahyu. Ketika turun wahyu pertama kali Nabi datang dalam keadaan takut. Berkatalah Sayyidatuna Khadijah: “Wahai Rasulullah jangan takut sesungguhnya Allah takkan menyia-nyiakanmu karna engkau orang yang suka bersedekah, menyambung tali silaturrahmi, dan selalu membantu orang yang susah. Demi Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu.”

Inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana mulai sebelum diangkat menjadi Nabi memiliki sifat-sifat yang mulia dan Sayyidatuna Khadijah yang mana tidak dikenal di Makkah kecuali sebagai wanita yang mulia dan terhormat baik dari segi akhlaq atau budi pekerti.

Di rumah tersebutlah anak-anak perempuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdidik atas bimbingan orang tua yang penuh akhlaq yang mulia dan kasih sayang.

Sebagian ulama’ berkata: “Di lahirkannya Sayyidatuna Fathimah di masa sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah hikmah agar Fathimah membantu perjuangan ayahnya dan tumbuh besar bersamaan dengan tumbuh besarnya agama. Sayyidatuna Fathimah menjadi pendamping setia ayahnya, suka dan duka sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.

Sayyidatuna Fathimah adalah jantung hati yang sangat dicintai oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sayyidatuna Khadijah. Sampai-sampai Sayyidatuna Khadijah setiap melahirkan mengirimkan anak-anaknya agar disusui, sebagaimana adat orang-orang Quraisy. Kecuali Fathimah, Sayyidatuna Khadijah sendiri yang menyusuinya karena cintanya yang mendalam, karena kemiripanya dengan Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga karena Fathimah adalah anak terakhir (paling kecil) sehingga ia mendapatkan perhatian khusus.

Sayyidatuna Fathimah disebut dengan az-Zahro’ karena warna kulitnya putih indah bercampur dengan kemerah-merahan. Sebagian mengatakan Sayyidatuna Fathimah disebut az-Zahro’ karena ia menerangi penduduk langit sebagaimana tampak penduduk bumi gemerlapnya bintang yang ada di langit.

Fathimah juga disebut al-Batuul atau suci, karena ia tidak putus dan bersemangat dalam beribadah. Sebagian mengatakan ia disebut al-Batuul karena tidak ada wanita di zamannya yang menandingi kemuliaan, keagungan dan derajat Sayyidatuna Fathimah.