Kisah Pendeta Bahira Bertemu dengan Nabi Saw

Tatkala Nabi saw menginjak usia 12 tahun, Beliau saw diajak oleh pamannya yang bernama Abu Thalib untuk ikut berdagang ke Syam. Di tengah perjalanan tepatnya ketika memasuki daerah Bashra, rombongan kafilah dagang Abu Thalib serta Nabi saw ini bertemu dengan seorang pendeta yang bernama Bahira. Bahira merupakan seorang pendeta yang menguasai atau mengetahui banyak tantang Injil serta Kitab-kitab lainnya.

20150216163348 2 pohon sahabi 002 tantri setyorini

Bahira telah mendapat firasat kalau ia akan bertemu dengan sang nabi akhir zaman. Maka, setiap ada kafilah yang datang melewati tempatnya ia langsung mengamati kafilah-kafilah tersebut. Diperhatikannya masing-masing kafilah atau tamu-tamu tersebut. Namun, tak satupun di antara mereka yang memiliki tanda-tanda kenabian. Akhirnya, Bahira berjumpa dengan kelompok kafilah Abu Thalib dan mengajak mereka untuk beristirahat.

Akan tetapi, ternyata masih ada satu anggota rombongan yang tidak ikut masuk ke tempat Bahira. Dialah Nabi Muhammad Saw yang masih kecil berumur 12 tahun yang waktu itu diminta menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta kafilah oleh pamannya. Bahira takjub menyaksikan cabang pohon tersebut merunduk untuk melindungi Nabi Saw dari terpaan panas matahari. Selain itu, dikisahkan juga bahwa gumpalan awan memayungi Nabi Saw ke manapun beliau pergi. Hal itu juga termasuk tanda-tanda kenabian Muhammad Saw. Melihat tanda-tanda tersebut Bahira yakin kalau anak tersebut memang benar-benar nabi yang sudah dijanjikan kedatangannya dalam kitab-kitab terdahulu. Bahira pun meminta agar anak kecil tersebut diajak berteduh dan makan.

Setelah itu, Bahira bertanya pada Abu Thalib.. Siapakah anak ini? Abu Thalib menjawab, “dia adalah anakku” (memang Abu Thalib sudah menganggap Nabi saw sebagai anaknya sendiri dan sangat mencintai Nabi saw juga memanggil Nabi saw dengan panggil anak).” Rupanya Bahira mengetahui bahwa Nabi akhir zaman adalah seorang yatim. Maka, Bahira pun langsung menyangkal perkataan Abu Thalib,”Dia bukan anakmu.” Ayah daripada anak ini pasti sudah meninggal.” Abu Thalib pun berkata,”Ayah anak ini memang sudah meninggal, dia adalah anak dari saudaraku.” Bahira bertanya lagi, “Kapan ayah anak ini meninggal?” Abu Thalib pun menjawab, “Ayahnya meninggal ketika anak ini masih dalam kandungan,” Bahira pun berkata,”Anda Benar, sekarang bawalah anak ini pulang ke negerinya dan jangan kau teruskan perjalanan mu ke negeri Syam dan jagalah anak ini dari orang-orang Yahudi. Jika Yahudi melihat anak ini berada di sini, mereka pasti akan berbuat jahat pada keponakanmu. Ketahuilah bahwa keponakanmu ini akan memegang perkara yang besar serta membawa berkah bagi semesta alam.” Setelah mendengar penjelasan dari Bahira, Abu Thalib pun langsung membawa pulang Nabi saw ke Makkah. Abu Thalib tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada keponakannya karena ia sangat menyayanginya.

Memang ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani memiliki pengetahuan tentang bi’tsah Nabi dengan mengetahui tanda-tandanya. Bukan hanya itu, mereka mengetahui berita kenabiannya serta penjelasan tentang tanda-tanda dan sifat-sifatnya yang terdapat di dalam Taurat dan Injil.

Bahkan sebelum Nabi saw dilahirkan ke alam dunia ini, orang-orang Yahudi suka berdo’a memohon kedatangan Nabi saw untuk mendapatkan kemenangan atas kaum Aus dan Khazraj dengan mengatakan, “Sesungguhnya sebentar lagi akan dibangkitkan seorang Nabi yang kami akan mengikutinya. Kami lalu bersamanya akan membunuh kalian sebagaimana pembunuhan yang pernah dialamai kaum ‘Aad dan Iram. Yahudi memang telah menunggu Nabi akhir zaman dan mereka mengetahuinya dari kitab-kitab terdahulu.

Hal ini dijelaskan oleh Sahabat Umar bin Khathab bertanya pada Abdullah bin Salam (seorang ahli kitab yang telah masuk Islam)

اتعرف محمداصل الله عليه وسلم كماتعرف ابنك؟ فقال نعم واكثربعث الله امينه فى سماعه الى امينه فى ارضه بنعته فعرفته، اماابنى فلاادرى ماالذى قد كان من امه

"Apakah kamu mengetahui Muhammad saw sebagaimana kamu mengetahui anakmu? Ia menjawab, Ya, bahkan lebih banyak. Allah mengutus malaikat kepercayaan-Nya di langit kepada orang kepercayaan-Nya di bumi dengan sifat-sifatnya, lalu saya mengegahuinya. Adapun anak saya maka saya tidak mengetahui apa yang telah terjadi dari ibunya."

Memang kaum Yahudi mengetahui tentang akan datangnya Nabi akhir zaman sebagaimana mereka ketahui dari kitab-kitab terdahulu. Akan tetapi, kaum Yahudi ini dikemudian hari ingkar terhadap janjinya tersebut.

Bahkan keimanan sahabat Salman Al Farisi juga disebabkan karena ia telah melacak berita Nabi saw dan sifat-sifatnya dari injil, para pendeta dan ahli kitab. Akan tetapi, injil yang dulu tidak bisa disamakan dengan Injil-Injil yang beredar di zaman sekarang. Injil-injil di zaman sekarang telah di rubah dan banyak dipalsukan oleh para pendeta. Sehingga di Injil sekarang tidak akan ditemui berita tentang Nabi saw.

Ketika usia Nabi saw mulai remaja, Beliau saw mulai mencari rezeki dengan menggembala kambing. Jika melihat keadaan penduduk Makkah, maka kebanyakan usia muda penduduk Makkah melakukan berbagai perbuatan tercela seperti hura-hura, mabuk bermain perempuan dan lain-lain. Meskipun Nabi saw sudah memasuki usia remaja atau dewasa, tapi Nabi saw tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan tercela di zaman jahiliyyah tersebut. Allah swt menjaganya dari perbuatan tercela tersebut.