Kisah Masuk Islamnya Sahabat Umar bin Khathab

Siapa yang tidak kenal Umar bin Khatab. Seorang tokoh besar Islam, mertua Nabi saw serta khalifah Rasyidah yang ke 2 menggantikan Abu Bakar. Gelarnya adalah Al Farouk yang artinya membedakan antara yang haq dan yang batil. Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu suku yang ada di Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim, yang merupakan dari kabilah Bani Makhzum.

omar bin khatab

Pada zaman jahiliyah keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka. Ia sangat di segani oleh kawan-kawannya karena memang piawai dalam berperang serta sikapnya yang tegas. Jika sebagian besar para sahabat nabi saw pergi berhijrah sambil sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan oleh kafir quraisy, maka Umar bin Khatab lah yang pergi hijrah ke Madinah secara terang-terangan. Bahkan Umar pun mengumumkan kepergiannya di depan khalayak ramai sambil menantang siapa saja yang berani untuk mencegahnya. Akan tetapi, semuanya tau siapa Umar sehingga tidak ada satupun dari orang kafir Quraisy yang berani menghadang Umar untuk Hijrah ke Madinah.

Umar memang bukan sahabat yang paling awal memeluk Islam. Bahkan tatkala Nabi Muhammad saw menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadapnya. Ia secara terang-terangan menolak dakwah nabu saw. Masa lalunya yang kelam membuatnya tidak semudah itu menerima Islam. Maka, tidaklah aneh jika kaum muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa para sahabat Muhammad saw. Sebagian besar sahabat nabi saw sangat takut pad Umar ketika itu.

Namun, pada puncak kebenciannya terhadap Nabi Muhammad saw, Umar pun memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, ketika diperjalanan ia bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang bernama Nu'aim bin Abdullah. Ketika melihat Umar, maka Nu’aim pun langsung memberitahu Umar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam. Mendengar hal tersebut Umar kaget bukan kepalang, dadanya serasa sesak dan bagaikan tersambar petir di siang hari. Ia sangat mencintai saudara perempuannya, akan tetapi ia tidak menyangka dapat kabar bahwa saudara perempuannya memeluk agama yang mana nabi nya ia ingin bunuh pada hari itu. Akhirnya Umar pun mengurungkan niatnya untuk membunuh nabi Muhammad saw dan langsung pergi balik arah untuk menemui saudara perempuannya. Ketika sampai di depan pintu rumah saudara perempuannya, Umar mendengar saudaranya tersebut sedang membaca al-qur’an yakni surat Thoha ayat 1-8. Mendengar hal tersebut Umar pun langsung marah besar. Melihat kakaknya marah, saudara perempuan Umar pun menjadi ketakutan karena ia tahu persis sifat maupun karakter kakaknya tersebut. Di tengah kemarahannya Umar akhirnya memukul saudara perempuannya yang bernama Fatimah tersebut sampai saudaranya tersebut mengeluarkan darah. Bahkan suami daripada adik perempuan Umar pun tak luput dari tendangan Umar.

Melihat saudara perempuannya berdarah Umar pun merasa kasihan dan iba karena adik perempuan yang ia sayangi sampai berdarah oleh tangannya sendiri. Lalu dia meminta lembaran al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca :

Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”

Kemudian beliau terus membaca :

طه
Hingga ayat :

إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

(QS. Thaha : 14)

Beliau berkata :

“Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”.

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art seorang sahabat nabi saw yang mengajarkan al qur’an pada fatimah keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Tidak menunggu lama, maka Umar pun langsung bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang ber-ada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu. Ketika dilihatnya yang datang adalah Umar betapa kagetnyanya sahabat tersebut. Tak terbayang apa yang akan dilakukan Umar dengan pedangnya yang dibawa. Suasana di dalam rumah pun mencekam karena kedatangan Umar. Segera sahabat tadi memberitahukan pada nabi saw bahwa Umar datang sambil membawa pedang. Akhirnya semua sahabat yang ada disitu berkumpul ketakutan karena kedatangan Umar. Hamzah pama nabi saw bertanya:

“Ada apa ?”.

“Umar” Jawab mereka.

“Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Seperti yang kita ketahui bahwa Hamzah pun merupakan seorang yang gagah berani, ahli pedang dan memanah. Akhirnya Rasulullah SAW memberi isyarat supaya Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

“Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

Maka berkatalah Umar :

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah .
Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan yang luar biasa di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin. Dengan masuknya Umar, maka kekuatan sahabat menjadi bertambah besar.