Kebiasaan Rasulullah Saw Ketika Akan Bepergian

Kebiasaan Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ingin berpergian akhir rumah yang dituju adalah rumah Fatimah. Mengucapkan salam perpisahan kepada isteri-isterinya, kemudian mendatangi rumah Fatimah dan duduk di dalamnya. Kemudian melakukan perjalanannya.

Muhammad.PBUH name image

Kebiasaan para sahabat jika melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Fatimah, mereka menunggu ingin melihat keadaan Rasulullah ketika keluar dari rumah tersebut. Mereka semua tahu, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Fatimah, selalu keluar dalam keadaan yang menakjubkan. Setiap kali masuk ke rumah Fatimah, Rasulullah selalu memiliki gerak gerik yang sulit di gambarkan karena kegembiraannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu keluar dalam wajah yang penuh kegembiraan dan cahaya, karena rumah tersebut adalah rumah yang dipenuhi rasa cinta, rumah yang penuh kasih sayang, rumah ketenangan, rumah yang menjadi tempat bagi Nabi untuk menenangkan dirinya, terlebih-lebih ketika lahir Hasan dan Husain.

Yang mana Kedua bayi tersebut yaitu Hasan dan Husain telah memenuhi keseharian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membuat beliau merasa tenang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat senang dengan keberadaan mereka berdua serta bermain-main dengan mereka. Setiap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Fatimah, Nabi menghampiri Fatimah sejenak, kemudian Nabi bermain dengan kedua bayi tersebut, serta meletakan di atas dadanya, dan menaikkan di atas punggungnya, sedang Fatimah menyapu, membereskan rumah, dan Rasulullah melirik fatimah dengan penuh rahmat.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari kepergian atau peperangan, seperti biasa jika datang, pertama tempat yang dituju setelah masjid adalah rumah putrinya, Fatimah. Kemudian setelah itu pergi kerumah isteri-isteri beliau. Rumah Fatimah adalah yang terakhir yang beliau tuju jika beliau mau bepergian, dan rumah pertama yang dimasuki jika datang dari berpergian.

Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari berpergian, beliau masuk ke masjid, sholat, kemudian langsung kerumah Fatimah. Ketika masuk ke rumah Fatimah, ia menangis melihat keadaan ayahnya yang tampak letih dan lelah, serta tubuhnya dipenuhi debu bekas perjalanan jauh. Maka Fatimah dalam keadaan menangis bergegas membersihkan debu di wajah ayahnya. Fatimah menangis, menangis, dan terus menangis.

Melihat hal tersebut, Rasulullah berkata, ”Jangan kau bersedih wahai putriku, jangan bersedih, karena Allah akan menampakkan agama ini.”

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap tetesan air mata, dan meredakan tangisan putrinya.

Ini semua karena cintanya Sayyidatuna Fatimah pada ayahnya, tidak mampu melihat ayahnya dalam keadaan ini. Sayyidatuna Fatimah tahu siapakah ayahnya. Akan tetapi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan usahanya, kelapangannya, serta kemampuannya kecuali dipergunakan di jalan Allah dan demi kejayaan agama ini. Sayyidatuna Fathimah memang anak kesayangan Nabi saw. Bahkan Nabi Saw pernah berkata kurang lebih seperti ini "Barang siapa yang mencintai Fathimah, maka ia mencintaiku juga dan barangsiapa yang menyakiti Fathimah, maka ia juga sama dengan menyakitiku juga".

Kecintaan Nabi Saw terhadap putri bungsunya ini sungguh luar biasa. Apalagi setelah ketiga saudari Sayyidatuna Fathimah meninggal yaitu Sayyidatuna Zainab, Sayyidatuna Ruqayyah dan Sayyidatuna Ummu Kultsum. Hanya Sayyidatuna Fathimah lah yang masih hidup ketika Nabi saw wafat. Begitupun sebaliknya, kecintaan Sayyidatuna Fathimah terhadap ayahandanya Saw sangat luar biasa. Bahkan sakitnya Sayyidatuna Fathimah hingga menjelang wafatnya karena sangat sedih ditinggal ayahandanya tercinta Saw.