Hal-Hal Yang Dapat Membatalkan Wudhu

Hal-hal yang dapat membatalkan wudhu Hal-hal yang membatalkan wudhu ada 4. Hal ini dijelaskan dalam Kitab Safinah An Najah [Pasal 12]

wpid d3a1d6691fc218247268295e7b7d0511

(نوا قض الوضوء أربعة أشياء) : فصل ) نوا قض الوضوء أربعة أشياء : الأول) الخارج من أحد السبيلين من قبل أو دبر ريح أو غيره إلا المنى الثاني ) زوال العقل بنوم أو غيره إلا نوم قاعد ، ممكن مقعده من الأرض الثالث) التقاء بشرتي رجل وامرأة كبيرين من غير حائل ، (الرابع ) مس قبل الآدمي أو حلقة دبره ببطن الراحة أو بطون الأصابع

Artinya :

1. Sesuatu yang keluar dari qubul (kelamin depan) dan dubur (kelamin belakang) seperti berupa angin atau selain angin kecuali air mani.

Penjelasannya, baik yang keluar itu berupa barang lumrah semisal kentut dan kencing, atau tidak lumrah. Jadi, meskipun yang keluar itu adalah emas maupun batu, maka wudhunya tetap batal. Kecuali bila yang keluar adalah mani (sperma), maka wudhunya tidak batal, sebab keluarnya sperma menyebabkan wajibnya mandi yang statusnya lebih besar dibanding wudhu.

2. Hilangnya akal disebabkan karena tidur atau karena lainnya, kecuali tidurnya sambil duduk yang menetapkan pantatnya pada tanah.

Penjelasannya, Hilangnya akal, bisa karena gila, pingsan, mabuk, epilepsi, tidur dan lain sebagainya. Kecuali tidur dengan posisi duduk dan pantat menetapi tempat duduk (tidak goyang), maka wudhunya tidak batal meskipun ada orang yang bilang bahwa saat tidur pantatnya tidak menetapi tempat duduk. Pengecualian ini hanya berlaku bagi orang bertubuh sedang; tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Namun, apabila ada orang yang dapat dipercaya memberitahu bahwa pada saat ia tidur duduk itu ada sesuatu yang keluar dari duburnya seperti kentut misalnya, maka wudhunya batal

3. Bersentuhan antara kulit laki-laki dan wanita yang sudah sama-sama dewasa, dari selain orang yang halal (keduanya tidak ada urusan mahram dan ketika bersentuhan tidak ada penghalang)

Penjelasannya, Menyentuh kemaluan atau dubur manusia dengan telapak tangan bagian dalam. Untuk mengetahui batas telapak tangan bagian dalam, maka pertemukan telapak tangan kanan dan kiri dengan sedikit ditekan. Maka, yang dimaksud telapak tangan di sini adalah bagian telapak tangan yang bertemu, serta telapak jari-jari dan bagian-bagian yang melengkung ke arah keduanya (ruas jari-jari bagian dalam). Adapun menyentuh alat kelamin dan anus hewan tidak membatalkan wudhu.

4. Memegang (menyentuh) qubul anak adam dan lingkaran duburnya dengan telapak tangan atau jari-jari bagian dalam (tapak tangan/jari-jari)

Persentuhan kulit dengan lain jenis yang bukan mahram dan keduanya sudah ada pada batas usia dewasa. Rambut dan kuku tidak termasuk dalam kategori kulit. Jadi, jika disentuh maka tidak membatalkan wudhu. Maksud dari dewasa di sini adalah sudah sampai pada batas usia disyahwatibagi orang yang memiliki watak normal. Maksud dari mahram adalah orang-orang yang memiliki:

1) ikatan nasab seperti adik, kakak, kakek, nenek, kedua orang tua, juga saudara kakek-nenek, dan saudara kedua orang tua; atau

2) ikatan perkawinan (mushâharah) seperti ayah dan ibu mertua; atau

3) ikatan radhâ’ (tunggal suson: Jawa), seperti perempuan yang menyusuinya, juga suami dan anak-anak dari perempuan itu.

Larangan bagi orang yang tidak punya wudhu (hadas kecil) Syekh Ahmad Syuja’i dalam kitab Irsyadul Awam Ila Sabilis Salam menjelaskan bahwa haram hukumnya bagi orang yang batal wudhunya atau mempunyai hadats kecil empat perkara. Hal ini pun sama dijelaskan dalam berbagai kitab seperti safinah maupun kitab fiqh lainnya, yaitu :

الصلاة والطواف ومس من انتقض وضوؤه حرم عليه أربعه أشياء:) فصل . المصحف وحمله.

1.Tidak boleh shalat.

Salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats baik kecil maupun besar. Untuk itu, haram mengerjakan shalat bagi orang yang tidak punya wudhu. Begitu juga haram melakukan ibadah yang searti dengan shalat, seperti sujud tilâwah dan sujud syukur. Jika seseorang tetap melaksanakan shalat tanpa mempunyai wudhu, maka shalatnya tidak sah.

2. Tidak boleh thawaf.

Haram berthawaf di Ka’bah jika tidak memiliki wudhu. Meskipun thawafnya adalah thawaf sunnah

3. Tidak boleh menyentuh Mushaf dan membawa Mushaf (al-Qur’an).

Maksud dari Mushaf di sini adalah lembaran kertas yang bertuliskan kalam Allah. Patokan utama apakah benda yang bertuliskan kalam Allah dikatakan Mushaf atau tidak, penilaiannya tergantung uruf (kebiasaan) masyarakat. Boleh membawa Mushaf tanpa berwudhu asalkan dibawa bersama barang lain dengan niatan membawa barang tersebut. Menurut Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabTuhfah boleh membawanya meskipun bertujuan membawa kedua-keduanya.