Fitnah di Zaman Khalifah Utsman bin Affan

Dalam kitab Fiqhus Sirah, Syekh Sai’id Ramadhan Al Buthy menjelaskan bahwa selama menjabat sebagai khalifah, Utsman bin Affan lebih dicintai oleh orang-orang Quraisy dibandingkan dengan Khalifah sebelumnya yaitu Umar bin Khathab. Hal ini tak lain karena sifat Utsman yang lemah lembut dan suka menjalin hubungn dengan mereka. Akan tetapi, masyarakat mulai berubah tatkala Khalifah Utsman lebih mengutamakan kerabatnya dalam pemerintahannya. Kebijakan yang diambil Khalifah atas dasar pertimbangan silaturahmi yang merupakan salah satu perintah Allah swt. Akan tetapi, kebijakan ini justru menjadi bumerang dan menjadi sebab terbunuhnya Khalifah.

220px Rashidun Caliph Uthman ibn Affan عثمان بن عفان ثالث الخلفاء الراشدين.svg

Salah satu awal permasalahan adalah tatkala penduduk Mesir mengadukan Ibnu Abi Sarh. Kemudian Khalifah menulis surat pada Ibnu Abi Sarh yang isinya nasihat sekaligus peringatan terhadapnya. Akan tetapi, Ibnu Abi Sarh tidak memperdulikan nasihat maupun peringatan dari Khalifah. Ia justru mengambil tindakan keras terhadap orang yang mengadukannya. Maka, para sahabat pun seperti Ali, Thalhah dan Ummul Mu’minin Aisyah mendatangi Khalifah dan meminta Khalifah untuk segera memecat Ibnu Abi sarh. Kemudian mereka pun mengusulkan agar Muhammad bin Abu Bakar untuk menggantikannya. Khalifah pun menyetujuinya dan mengintruksikan sejumlah sahabat untuk pergi ke Mesir sambil membawa surat resmi. Ketika baru 3 hari perjalanan perjalanan dari Madinah, tiba-tiba mereka bertemu dengan pemuda hitam yang berkendaraan unta dengan berjalan maju mundur terus.

Hal tersebut tentu menimbulkan kecurigaan para sahabat. Kemudian para sahabat mendatanginya. Pemuda hitam tersebut berkata,”Saya adalah pembantu Amirul Mu’minin yang diutus untuk menemui Gubernur Mesir.” Akan tetapi, karena rasa takut, kadang pemuda tersebut bilang yang sebenarnya bahwa ia adalah pembantu Marwan. Mereka kemudian mengeluarkan surat dari barang bawaannya tersebut. Dihadapan para sahabat Muhajirin dan Anshar, Muhammad bin Abu Bakar membuka surat tersebut yang isinya,”Apabila Muhammad bin Abu Bakar beserta si fulan dan si fulan datang kepadamu, bunuhlah mereka dan batalkanlah suratnya.” Dan tetaplah engkau melakukan tugasmu sampai engkau menerima keputusanku. Aku menahan orang yang akan datang kepadaku mengadukan dirimu.”

Tentu saja isi surat tersebut membuat kaget para sahabat sekaligus marah dan bertanya-tanyaapakah betul Khalifah menulis surat ini ? pertanyaan tersebut terus ada dibenak para sahabat selama perjalanan mereka kembali lahi ke Madinah guna menanyakan langsung pada Khalifah. Ketika sampai di Madinah, para sahabat tersebutlangsung mengumpulkan para tokoh sahabat dan memberitahukan ihwal surat tersebut. Peristiwa ini secara otomatis membuat gempar masyarakat Madinah dan sekaligus membenci Khalifah. Melihat kejadian ini, Ali langsung mengumpulkan para tokoh sahabat seperti Thalhah, Zubair, Sa’ad dan Ammar. Bersama mereka Ali langsung menemui Khalifah. Ali bertanya pada Khalifah, “Apakah pemuda ini pembantumu ? Utsman menjawab “Ya”, Ali bertanya lagi,”Apakah kamu menulis surat ini ? Utsman menjawab,”Tidak”. Kemudian Utsman bersumpah atas nama Allah bahwa dirinya tidak menulis surat tersebut. Ali bertanya lagi,”Apakah ini stempelmu yang tertera di surat ? Utsman menjawab, “Ya”.Ali bertanya lagi,”Bagaimana mungkin pembantumu bisa keluar dengan menunggang untamu dan membawa surat yang distempel dengan stempelmu, tapi kamu sendiri tidak mengetahuinya? “Utsman pun menjawab lagi dengan bersumpah atas nama Allah bahwa dirinya tidak pernah menulis surat tersebut dan tidak pernah memerintahkan pembantu ini pergi ke Mesir.

Setelah diperiksa tulisan tersebut, akhirnya diketahui bahwa yang menulis surat tersebut adalah Marwan. Rupanya Marwan ingin mengadu dombakan Khalifah dengan semua sahabat yang ada di Madinah. Akhirnya para sahabat meminta agar Khalifah mau menyerahkan Marwan kepada mereka. Namun, keinginan ini ditolak oleh Khalifah, meskipun Marwan sendiri sedang ada di rumahnya di Madinah. Akhirnya para sahabat pun keluar dari rumah Khalifah dengan perasaan marah. Mereka mengetahui dan yakin bahwa Khalifah tidak berdusta dengan sumpahnya, akan tetapi mereka marah karena Khalifah tidak mau menyerahkan Marwan kepada mereka.

Kemudian tersebarlah berita ke seantero penjuru Madinah tentang berita tersebut. Akhirnya masyarakat Madinah pun marah besar kepada Khalifah. Bahkan sebagian masyarakat mengepung rumah Khalifah dan tidak memberikan sedikit pun air kepadanya. Setelah merasakan kepayahan karena kehausan, akhinya Khalifah beserta keluarganya menemui masyarakat Madinah yang mengepungnya sambil berkata ,” Adakah seseorang yang bersedia memberitahukan kepada Ali agar memberi kami air ? “Setelah mengetahui kejadian tersebut, Ali segera mengirim tiga qirbah air. Air yang dikirimkan Ali memang sampai pada Khalifah meskipun dengan cara yang susah.

Inilah fitnah besar yang terjadi di zaman Khalifah Utsman bin Affan. Seorang sahabat yang mulia serta menantu Nabi harus menderita dan berjuang melawan fitnah yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Fitnah ini pula yang pada akhirnya menyebabkan Khalifah syahid di bunuh oleh sekelompok bajingan yang masuk ke rumahnya.