Bisyarah dari Rasulullah Saw Untuk As Sayyid Muhammad Al Maliki

Indonesia merupakan sebuah negara yang istimewa bagi Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki. Beliau sering berkunjung ke Indonesia bersilaturahmi pada ulama-ulama yang ada di Indonesia serta mengambil ijazah dan faidah dari para ulama besar Indonesia. Sehingga tak heran jika sebagian besar murid Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki berasal dari Indonesia. Selain itu, awal mula pendirian ribath atau pesantren juga atas saran atau anjuran dari para ulama Indonesia khususnya Al Habib Ali bin Husain Al Atthas (Habib Ali Bungur).

sayyid muhammad alawi al maliki al hasani 2

Tatakala para ulama Indonesia kedatangan tamu dari Makkah yaitu Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki, mereka melihat cahaya ilmu serta lautan ilmu yang dalam, keshalehan serta merupakan putra dari ulama besar. Akhirnya para ulama tersebut meminta kepada As Sayyid Muhammad Al Maliki untuk membuka Ribath atau Pesantren di Makkah Al Mukarramah agar mereka bisa menitipkan putra-putra mereka untuk dididik ilmu agama serta menghidupkan kembali apa yang sudah terkubur ‘tersimpan’ para masyaikh dan salafus shaleh.

Beliau menerima permintaan dari para ulama tersebut, akan tetapi beliau menyembunyikan sesuatu di hati beliau yaiyu beliau tidak akan membina ribath terkecuali ada bisyarah dari datuknya yang mulia Nabi Muhammad saw. Beliau sering bermunajat jika nanti membina ribtah, maka beliau ingin yang menjadi mudir (pengasuh) dan pembinanya adalah Rasulullah saw sendiri dan Sayyidatuna Fathimah Az Zahra. Beliau juga bermunajat dan memohon agar siapapu yang keluar dari ribath tersebut diberikan keterbukaan dan kemudahan dalam urusan duniawi dan ukhrawi.

Akhirnya do’a beliau dikabulkan oleh Allah swt. Diceritakan bahwa Asy Syaikh Abdullah As Sudani (dari Sudan) seorang ulama besar yang mempunyai kedudukan tinggi karena termasuk orang-orang khusus yang sering bertemu dengan Rasulullah saw dalam keadaan terjaga (yaqodhoh) bukan dalam mimpi berkunjung ke Makkah.

Tatakala beliau sedang thawaf mengelilingi Ka’bah tiba-tiba beliau melihat Rasulullah Saw datang dari arah Bab Al Malik. Akhirnya beliau bergegas berlari menghampiri Nabi saw dan mencium tangan Nabi yang mulia... subhanallah.

Rasulullah berpesan kepada Asy Syaikh Abdullah, “Sampaikan kabar kepada anakku As Sayyid Muhammad Al Maliki agar dia merealisasikan apa yang disimpan dalam hatinya”.

Setelah menerima pesan mulia ini, beliau langsung berusaha mencari tahu keberadaan As Sayyid Muhammad Al Maliki. Padahal Asy Syaikh Abdullah tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan As Sayyid Muhammad Al Maliki. Akhirnya beliau mencari ke sana kemari sosok yang menerima pesan langsung dari Rasulullah saw dibantu oleh seseorang yang bernama Abdul Aziz sampai beliau bertanya pada Syaikh Abdullah Dardum yang merupakan penduduk Makkah. Akhirnya mereka berdua berangkat bersama Syaikh Abdullah Dardum karena Syaikh Abdullah Dardum memang mengenal As Sayyid Muhammad Al Maliki. Ketika mereka bertiga sampai dikediaman As Sayyid Muhammad Al Maliki di Utaibiyah, maka pesan dari Rasulullah saw langsung disampaikan pada As Sayyid Muhammad Al Maliki. Terlihat jelas wajah kebahagiaan mendengar berita yang disampaikan dan beliau pun langsung sijid syukur kepada Allah swt.

Lalu As Sayyid Muhammad menjelaskan kepada mereka bahwa niat yang terpendam dalam hati adalah untuk membina ribath dengan bisyarah langsung dari Rasulullah saw. Mendengar kisah iniSyaikh Abdullah Dardum langsung menangis dan beliau langsung bilang bahwa beliau siap membantu dan siap menerima isyarat dari As Sayyid Muhammad.

Tak lama berselang datanglah para pelajar atau santri dari Indonesia. Merekalah santri pertama As Sayyid Muhammad Al Maliki. Sampai sekarang santri terus berdatangan dari berbagai negara untuk belajar di ribath Al Maliki.

As Sayyid Muhammad Al Maliki memperlakukan murid-murid beliau layaknya seorang ayah yang penuh perhatian. Bahkan As Sayyid Muhammad menyuruh para santrinya untuk tidak memanggil dengan sebutan “ustadz” atau “syaikh”. Tetapi, beliau menyuruh para santrinya untuk memanggil “abuya” yang artinya ayahku.

Beliau tidak menerima seorang murid kecuali setelah melakukan istikharah. Beliau sering berkata, “Tidaklah aku menerima seorang pun untuk belajar kepadaku (secara khusus) di ribath kecuali dengan isyarah”. Yaitu isyarah atau petunjuk dari Rasulullah saw. As Sayyid Muhammad Al Maliki mendidik para muridnya dengan metode yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. Sehingga pendidikan seperti itu sangat berpengaruh pada muridnya.Untuk itu, tak heran jika dikemudian hari para murid beliau tumbuh menjadi seorang ulama besar, mendirikan pesantren, madrasah dan ada yang menjadi ahli dakwah.

Dari uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa beliau merupakan salah satu dari hamba Allah yang mendapatkan keistimewaan dengan dididik dan diperhatikan langsung oleh datuk beliau yakni Nabi saw.

*) dikutip dari “Mutiara Ahlul Bait Dari Tanah Haram” dan dari berbagai sumber lainnya