Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri

Jika kita berbicara tentang Tarim kota sejuta wali dan gudangnya para ulama di Hadhramaut Yaman, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari salah satunya lembaga pendidikan agama yang legendaris di Tarim yaitu Ribath Tarim. Lalu, jika kita berbicara tentang Ribath Tarim, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari salah seorang pendiri Ribath Tarim tersebut yang merupakan seorang ulama besar pendidik sejati yang telah menghasilkan ribuan murid yang menyebar ke berbagai penjuru negeri dan menjadi ulama besar di negerinya masing-masing. Ulama besar tersebut adalah As-Sayid Al-Allamah Al-Faqih Al-Musnid Al-habib Abdullah bin Umar As-Syathiri Ba’alawi Al-Husaini At-Tarimy Al-Hadhromi.

habib abdullah bin umar asy syathiri

Ribat Tarim dibangun pada tahun 1304 H dengan lima keluarga sebagai pendiri awal yaitu Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Al Haddad, Al Habib Umar bin Ahmad As Syathiri, Al Habib Ahmad bin Segaf Al Juneid, Al Habib Muhammad Salim As Sirrie dan Syeikh Arfan Baraja. Jika dilihat dari tahun berdirinya, maka Ribath Tarim sudah berdiri lebih dari 133 tahun dan menghasilkan ribuan ulama. Ribath Tarim merupakan hasil Pertemuan para ulama Tarim  dari keluarga A-Haddad, As-Sirri, Al-Junaid dan Al-Arfan  untuk mendirikan sebuah Ribath (ma’had) yang kemudian dinamakan “RiBATH TARIM”. Persyaratan bagi calon pelajar juga dibahas pada kala itu, kriteria utama antara lain: calon santri adalah penganut salah satu mazhab dari empat mazhab fiqh (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) dan dalam aqidah bermazhab Asy’ariyah (mazhab Imam Abi Hasan Al-Asy’ari). Setelah membuat kesepakatan diatas dimulailah pembangunan Ribath Tarim. Untuk keperluan ini, Habib Ahmad bin Umar As-Syatiri (wafat  di Tarim tahun 1306 H) mewakafkam rumah beliau (dar muhsin) dan pekarangannya yang berada disebelah pasar di halaman mesjid Jami’ Tarim dan mesjid Babthoinah (sekarang mesjid Ribath Tarim). Wakaf juga datang dari Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad bin Salim As-Sirri (lahir di Singapura 1264 H, dan wafat di Tarim 1346 H).

Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri (pengasuh Ribath Tarim sekarang) menambahkan bahwa pedagang-pedagang dari keluarga Al-Arfan juga mewakafkan tanah yang mereka beli di bagian timur, mereka kemudian dijuluki tujjaru ad-dunya wa al-akhirah (pedagang dunia dan akhirat). Datang juga sumbangan melalui wakaf rumah, kebun, dan tanah milik keluarga-keluarga habaib di luar Yaman, seperti Indonesia, Singapura, dan Bombosa Afrika.    

Akhirnya selesailah pembangunan Ribath Tarim di bulan Dzulhijjah tahun 1304 H dan secara resmi dibuka pada 14 Muharram 1305 H, keluarga Al-Attash tercatat sebagai santri pertama yang belajar di Ribath Tarim kemudian datang keluarga Al-Habsyi begitu selanjutnya berdatangan para pelajar, baik dari Hadramaut sendiri maupun dari luar Hadramaut  bahkan dari luar negeri Yaman. Habib Ahmad bin Hasan Al-Attash berkata: “perealisasian pembangunan Ribath Tarim ini tidak lain adalah niat semua salafusshalihin alawiyiin, hal ini terbukti dengan manfaatnya yang besar serta meluas mulai dari bagian Timur bumi dan Barat”.

Setelah pembangunan Ribath Tarim selesai, maka pengelolaannya serta kegiatan belajar mengajarnya diserahkan kepada Muhfti Diyar Hadhramaut Al Imam Al Allamah Abdurrahman bin Muhammad Al Masyhur. Kemudian pada tahun 1314 H kepemimpinan Ribath Tarim diserahkan kepada seorang pemuda yang ‘Alim yang masih berusia 24 tahun beliau adalah Al Alim Al Allamah Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri. Seorang ulama muda yang baru pulang dari Al Haromain As Syarifain (Makkah Madinah) dalam menuntut ilmu. Diserahkanlah seluruh pengelolaan Ribat serta sistem belajar mengajar kepada beliau. Beliau pun mampu memimpin Ribath Tarim selama kurang lebih 50 tahun.

Memang beliau adalah seorang ulama serta pendidik sejati. Dalam perjalanannya berburu ilmu beliau awalmulanya belajar di kota kelahirannya dan belajar kepada para ulama besar di sana terutama kepada Habib Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur dan Habib Ahmad bin Muhammad Al-Kaff. Kemudian beliau pindah ke Seiwun (25 KM sebelah barat laut kota Tarim) dan belajar di Ribath Habib Ali bin Muhammad bin Husien Al-Habsyi selama kurang lebih empat bulan, juga kepada Habib Muhammad bin Hamid As-Segaff, dan saudara beliau Umar bin Hamid As-Segaf, serta Habib Abdullah bin Muhsin As-Segaf.  

     

Ketika usianya mencapai 20 tahun (tahun 1310 H), beliau pergi ke Mekkah bersama orang tua beliau Habib Umar As-Syatiri, untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah kepada Rasulullah SAW. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, beliau meminta izin kepada ayah beliau untuk tinggal di Mekkah guna menuntut ilmu. Dan tercatat sejak tanggal 15 Muharram 1211 H hingga 15 Dzulhijjah 1313 H beliau belajar pada ulama-ulama di kota suci itu, diantaranya kepada Syekh Al-Allamah Umar bin Abu Bakar Ba Junaid, Syekh Al-Allamah Muhammad bin Said Babsheil, Habib Husein bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi (saudara Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun), Habib Ahmad bin Hasan Al-Attash, dan Al-Faqih Al-Abid Abu Bakar bin Muhammad Syatho (pengarang kitab hasyiyah I’anatu At-Thalibin ‘ala fathi Al-mu’in).

Konon ilmu nahwu sangat sulit bagi beliau, sampai beliau berujar (sebagaimana yang dituturkan putera beliau Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri):”…..dulu saya punya kitab kafrawi syarah al-jurumiah yang penuh dengan air mata….. “ kerena sulitnya ilmu itu bagi beliau. Namun kemudian Allah SWT menganugerahi beliau ke-futuh-an.”….tatkala saya berada di Mekkah, semua risalah yang datang, saya taruh dibawah tempat tidur, saya berdo’a di Multazam agar Allah SWT membukakan bagi saya ilmu yang bermanfaat, dan agar ilmu saya menyebar di bumi barat dan timur, maka acap kali saya berdo’a dengan do’a ini, terlintas dalam benak, bahwa saya akan menjadi musafir yang pindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengajar umat akan tetapi berapa lama umur manusia untuk semua itu ?…”. Maka Allah SWT mengabulkan do’a beliau, Allah SWT memudahkan pelajar Ribath, sehingga datang kesana para penuntut ilmu dari penjuru dunia, mereka menjadi ulama, dan menyebarkan ilmu mereka masing-masing maka menyebarlah ilmu beliau sampai ke seluruh penjuru negeri. Bahkan di Indonesia pun banyak para ulama yang menjadi murid beliau diantaranya seperti :

  1. Al Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang Jakarta
  2. Al Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin Al Athas Empang Bogor.
  3. Al Habib Al Imam Al Quthb Al Bahr Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih (pendiri ma’had Darul Hadits Malang)
  4. Al Habib Al Barakah Idrus bin Salim AlJufri (pendiri Madrasah Al Khairat di kota Palu Sulawesi dan cabang Madrasahnya telah menyebar lebih dari 1.300 Madrasah)
  5. Al Habib Muhammad bin Husein Ba’bud (pendiri Ponpes Darunnasyiin Lawang Jawa Timur)
  6. Al Habib Syeikh bin Salim Al Jufri (Ulama Besar gurunya para Kyai dan Ajengan di Sukabumi, Cianjur dan kota-kota di Jawa Barat)

Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz (Ayahanda dari Al Habib Umar bin Hafidz yang juga merupakan salah seorang murid beliau) berkata “Habib Abdullah bercerita kepada kami bahwa lama tidur beliau kala itu (selama balajar di Mekkah) tidak lebih dari 2 jam saja setiap harinya, beliau belajar kepada guru-gurunya sebanyak 13 mata pelajaran pada siang dan malam, serta menelaah kembali semua pelajaran itu (tiap hari).”    

Selama kurang lebih 50 tahun beliau mengajar di Ribath Tarim (1314-1361 H) selama itu hanya 4-6 jam beliau berada di rumah, sedangkan 18-20 jam dari dua puluh empat jam tiap hari, beliau berada di Ribath Tarim untuk mengajar dan memimpin halaqah-halaqah ilmiah, jumlah murid yang telah belajar di Ribath Tarim tak dapat diketahui secara pasti jumlahnya. Dalam biografi Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar (salah seorang murid di Ribath Tarim) menyebutkan bahwa lebih dari 13.000 alim telah keluar dari Ribath Tarim Dibawah asuhan Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri. Hal tersebut tak lain adalah dari buah kesabaran, keikhlasan dan keistiqomahan beliau dalam mengajar dan mendidik para santrinya. Para muridnya tersebut ada yang menjadi mufti di negaranya masing-masing, menjadi ulama besar serta menjadi aulia dengan berbagai tingkatannya serta orang-orang sholeh yang tersebar ke seluruh negeri untuk menyebarkan ilmu syariat Allah dan Rasul-Nya sehingga Allah swt mengabulkan do’a beliau tatkala neliau masih belajar di Makkah dan berdo’a di depan pintu Ka’bah setiap beliau selesai menjalankan shalat dan thawaf “Ya Allah sebarkanlah manfaat ilmu yang engkau anugrahkan kepadaku hingga ujung timur dan barat belahan bumi...”

Berikut ini adalah pujian-pujian para ulama dan aulia kepada Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri, diantaranya yaitu :

  1. Al Habib Hasan bin Ismail BSA (pendiri pesantren di kota Inat Hadhramaut) :

“Sesungguhnya Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri adalah seorang mujaddid abad ke 14 yang tanpa diragukan lagi.”

  1. Al Habib Abdullah bin Muhsin Al Athas (Keramat Empat Bogor) :

“Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri nanti akan dibangkitkan dengan membawa umat tersendiri. Ia dan para murid-muridnya untuk menghadap kakeknya Nabi Muhammad SAW.

  1. Al Habib Alwi bin Muhammad Al Muhdhor berkata :

“Bahwa aku tidak memasuki sebuah kota, desa maupun pulau dipulau jawa yang terdapat madrasah dan akupun bertanya kepadanya tentang siapa yang mengelolanya dan dari siapa mereka mengambil ilmu kecuali aku dapatkan dari mereka adalah murid dari Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri atau murid dari muridnya.”

  1. Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafidz (Ayahanda dari Al Habib Umar bin Hafidz) berkata :

“Bahwa sesungguhnya keutamaan Al Habib Abdullah bin Umar As Syathiri kalaulah di tulis oleh seseorang selain para malaikat tentu tidaklah mereka mampu.”

 

 

*) dikutip dari berbagai sumber